Sabtu, 21 September 2019

resensi buku panduan pengajar media pendidikan biologi avertebrata




IDENTITAS BUKU
 Judul              : PANDUAN PENGAJAR MEDIA PENDIDIKAN BIOLOGI AVERTEBRATA
 Pengarang    : Drs. SUHARDI M.Pd
 Penerbit        : DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL         PENDIDIKAN TINGGI PROYEK PENGEMBANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN TENAGA KEPENDIDIKAN
 Tahun Terbit  : 1988
 Cetakan          : -
 ISBN                : -
 Halaman        : 48 halaman
 Volume          : 16x23


KELEBIHAN BUKU
  • Materi tentang avertebrata lengkap
  • Langkah-langkah yang disajikan dalam buku tersebut mudah dipahami
  • Disajikan strategi belajar mengajar
            KEKURANGAN BUKU
  • Tidak terdapat daftar isi
  • Tidak tercantum ISBN dan cetakan
  • Tidak disajikan gambar yang terkait dengan avertebrata


Meniti waktu di tepi hari


MENITI WAKTU DI TEPI HARI
Berulang kali di dorongnya air yang tergenang dengan sapu ijuk yang sudah patah gagangnya. Air itu selalu menggenang bila hujan datang, karena atap terasnya agak rusak, juga beberapa kayunya sudah lapuk. Suaminya belum ada kesempatan untuk memperbaiki, sedangkan ia sendiri mulai Senin sampai Sabtu disibukan di kampusnya sebagai dosen. Hari Minggu harusnya untuk istirahat, tapi pekerjaan yang menumpuk, mulai dari cucian sampai kebersihan rumah membuatnya tak bisa istirahat.
Belum tuntas membersihkan genangan air, ia duduk sambil meluruskan kaki yang terasa pegal-pegal. Tangannya coba digerak-gerakan, dilipat dan diregangkan kembali. Fisiknya terasa sudah menurun. Padahal umurnya baru empat puluh enam tahun. Mungkin karena beban kerja yang terlalu berat, membuat fisiknya menurun, keluhnya dalam hati.
Perjalanan hidup memang sepertinya sangat bergelombang, bahkan kadang-kadang sangat curam dan terjal. Ia sangat merasakan hal itu. Padahal dulu tak terpikirkan kalau hidupnya akan cukup susah dan melelahkan begini.
Saat itu hidupnya terasa tanpa beban. Hal itu ia rasakan semenjak ia lahir sampai duduk di perguruan tinggi semester dua. Segalanya serba ada dan siap. Ayahnya sebagai seorang direktur di sebuah usaha milik negara sangat berkecukupan. Ada enam pembantu yang siap melayani segala aktivitas rumah tangganya, belum lagi tiga sopir pribadi yang juga siap mengantar ke mana saja diperlukan. Mobil holden di tahun tujuh puluhan ada tiga di rumah dinas ayahnya, juga sebuah mobil vw combi selalu terparkir di halaman rumahnya yang luas.
Jika dibanding dengan segala fasilitas yang ada, ia dan dua adiknya, tentu sangatlah berlebihan. Ibunya pun hanya sibuk berorganisasi. Hingga terkadang ia memanggil teman-teman sekelasnya untuk belajar di rumah. Teman-temannya sangat antusias kalau disuruh belajar ke rumahnya. Maklum saja karena banyak kue dan buah-buahan dihidangkan sambil belajar, belum lagi es jeruk buatan bibi Umi yang menjadi kesenangan teman-temannya itu.
“Dina, putar dulu dong lagu-lagunya Bimbo”, pinta Dendi sedikit berteriak dari sudut ruangan saat belajar bersama.
“Oke. Bagaimana Wid? Setuju ya?”, tanya Dina kepada Widya yang asyik menyalin tugas. Widya hanya mengangguk. Dina lalu memutar piringan hitam yang ada di sisi kiri ruangan. Dendi pun mengangkat ibu jari tangannya tinggi-tinggi kepada Dina.
Dan menjelang senja, pak Man disuruh mengantar teman-temannya itu ke rumahnya masing-masing. Pak Man yang disuruh mengangguk-angguk hormat dan cepat-cepat menuju sedan holden untuk menghidupkan mesinnya. Pokoknya semua pembantu dan sopir yang ada selalu siap disuruh ke mana saja diperlukan. Tak ada yang berani menolak. Bahkan mereka sangat hormat, bukannya saja kepada ayahnya yang direktur itu, tetapi kepada semua keluarganya. Bukan itu saja. Pekerjaan lain pun biasa mereka kerjakan dengan patuh. Seperti pak Man, biasanya disuruh membuatkan anyam-anyaman dari kulit bambu untuk tugas kerajinan yang disuruhkan oleh Dita, adik Dina yang masih di SMP.
Saat itu pun banyak teman laki-laki Dina yang sering mengungkapkan simpatinya. Maklumlah, selain cantik, Dina juga salah satu anak orang terpandang dan kaya di kota itu. Ia juga memiliki segala fasilitas yang diperlukan berbagai kegiatan dengan teman-temannya. Dina ibarat magnet yang mampu menarik banyak teman laki-laki, baik di kelasnya maupun di kelas-kelas lainnya. Tetapi yang rupanya mendapat tempat di hatinya hanya Dendi. Mengetahui hal itu, Dendi pun memanfaatkannya dengan baik dan selalu menjaga Dina kemana pun pergi.
Tetapi roda-roda kehidupan sepertinya berputar. Saat Dina duduk di semseter dua sebuah perguruan tinggi, ayahnya meninggal karena terkena serangan jantung. Semua itu dikarenakan ayahnya terkena masalah yang secara tiba-tiba menjeratnya. Empat gudang yang ada di perusahaannya habis terbakar. Ayah Dina dituduh berkonspirasi dengan beberapa pihak untuk menghilangkan barang bukti kasus defisit keuangan di perusahaannya. Dan sebelum ayahnya disidik oleh pihak yang berwenang, ajal sudah menjemputnya. Ayahnya merasakan itu semua fitnah untuk menjatuhkan kariernya di perusahaan milik negara itu.
Kehidupan kemudian berbalik tiga puluh enam derajat. Ibu dan anak-anaknya diharuskan segera meninggalkan rumah dinas dan semua fasilitas yang disediakan. Beberapa tabungan ayah Dina di bank diblokir dan disita untuk mengganti kerugian perusahaan. Tetapi untung saja ada kebijakan perusahaan yang memberikan pesangon dan uang pensiun untuk ibu Dina.
Ibunya ditampung di rumah adiknya yang jadi perawat di sebuah rumah sakit. Dina pun tetap melanjutkan kuliah dengan uang pensiun yang ada. Hanya saja Dina dan adik-adiknya merasa belum siap dengan kehidupan yang berbalik drastis, jauh dari kecukupan. Karena terkadang tak ada lagi uang jajan di sakunya. Padahal dulu sakunya selalu penuh dengan lembaran uang yang siap untuk dihambur-hamburkan bersama teman-temanya.
Dengan terengah-engah Dina akhirnya dapat menyelesaikan sarjananya dan kemudian diterima menjadi tenaga pengajar di perguruan tinggi tempatnya kuliah. Kemudian menikah dengan seorang insinyur bangunan, yang saat itu belum memiliki pekerjaan. Hanya saja sampai kini suaminya terjun sebagai kontraktor dan memiliki usaha jasa konstruksi.
“Assalamu’alaikum”, salam suaminya yang tiba-tiba datang dan membuka pintu pagar. Dina terkejut. Semua lamunan tentang masa lalunya jadi pecah berkeping-keping. Lalu ia bangkit menjemput suaminya dan membalas salam. Sedangkan suaminya langsung masuk ke dalam rumah. Dina pun mengikutinya dari belakang.
“Gagal lagi tenderku kali ini, bu”, ucap suaminya seraya meremas-remas rambut di kepalanya. “Padahal penawaranku sudah cukup rendah dibanding dengan kontraktor yang lain”, lanjut suaminya dan melemparkan tubuhnya di atas sofa yang sudah pudar warnanya.
“Sabarlah, pak. Mungkin besok ada perubahan dari panitia”, jawab Dina membawa segelas kopi dan diletakan di meja dekat suaminya duduk.
“Tapi sepertinya ada permainan dalam tender tadi. Sepertinya ada kepentingan dari para pejabat yang akan dipaksakan dan memenangkan salah satu rekanan yang menjadi koleganya”.
“Jangan berprasangka buruk begitu. Mungkin masih ada kesempatan di tempat lain”, ucap Dina berusaha menenangkan hati suaminya. Dina sangat paham, kalau pekerjaan suaminya memang butuh kemampuan melobi kiri-kanan untuk mendapatkan pekerjaan. Tapi terkadang dalam satu masa tahun anggaran tak satu pun pekerjaan yang ia dapatkan. Maka gaji Dinalah yang menjadi tumpuan untuk dapat memutar roda keluarganya. Belum lagi dua anaknya yang membutuhkan biaya. Anak yang sulung sementara semester tiga di fakultas kedokteran, sedangkan yang bungsu baru duduk di kelas dua SMA. Bagaimana tidak terasa berat beban di pundak Dina kalau memikirkan semuanya itu. Fisiknya sebagai wanita yang belum terlalu tua terasa semakin rapuh. Kadang ia malu jika bertemu teman satu sekolahnya dulu yang masih nampak segar dan cantik.
“Reza ke mana, bu”, tanya suaminya mencari anak bungsunya.
“Pergi les bahasa Inggris bersama teman-temannya. Kenapa, pak?”
“Saya mau suruh cuci motor”, jawab suaminya lalu beranjak menuju kamar mandi. “Jangan lupa belikan obat, sisa obatku tinggal satu kali minum”, lanjut suaminya mengingatkan. Dina hanya mengangguk. Diambilnya sisa-sisa uang belanja tadi pagi lalu dihitungnya. Tak cukup. Diambilnya uang di laci lemari yang merupakan uang untuk persiapan kebutuhan dalam satu bulan. Dina melirik kalender di sisi lemari. Baru tanggal dua puluh, keluhnya. Persiapan uangnya sudah semakin menipis. Kalau pun tidak beli obat, jangan sampai asma suaminya tambah parah. Bila itu terjadi, tentu saja yang repot dirinya. Ia pasti akan mengantar suaminya bolak-balik ke puskesmas untuk berobat dengan kartu kuningnya. Dina ibaratnya kepala rumah tangga yang harus mengatur segala-galanya.
“Bu, sedang apa”, sapa Firza, anak perempuannya yang baru pulang kuliah. Firza lalu mencium kedua pipi ibunya. Ada kekuatan yang tiba-tiba mendorong kuat pada Dina untuk terus berusaha tegar menghadapi hidupnya.
“Baru pulang, Fi”, tanya ibunya. “Tolong belikan obat dulu untuk bapakmu di apotik Sumber Waras, tempat biasa obatnya bapakmu dibeli”, kata ibunya sambil menyodorkan uang kepada anaknya.
“Baik, bu”, jawab Firza patuh. Dina mengelus lembut rambut anaknya. Perasaan di hatinya jadi begitu tentram kalau melihat anak-anaknya itu. Semua kelelahan hidup jadi hilang tak terasa. Dua anaknyalah yang selama ini menguatkan hatinya untuk terus berjuang menghadapi segala kesulitan-kesulitan hidup.
Dina kembali lagi menuju teras untuk melanjutkan pekerjaannya tadi. Dua tiga kali didorongnya pakai sapu genangan air itu, terlihat sedikit mengering. Ia kemudian membersihkan beberapa daun yang jatuh saat hujan tadi. Rumahnya yang hanya sedikit pekarangannya, memang cukup mudah untuk dibersihkan. Dina dan keluarganya sudah hampir empat tahun tinggal di kompleks perumahan itu. Ia mengkredit rumah tipe 36 itu selama sepuluh tahun. Sedang sebelumnya ia berpindah-pindah mengkontrak rumah. Sampai sekarang Dina belum mampu untuk mengembangkan rumahnya itu, sedangkan suaminya selalu berjanji bila sudah mendapatkan proyek akan segera merenovasi rumahnya. Tapi kenyataannya, sudah akan memasuki tahun keempat beberapa proyek yang ia kerjakan katanya selalu merugi. Aneh memang nampaknya karena setiap proyek sudah memiliki perencanaan yang matang, bahkan ada konsultannya.
Dina menyandarkan tubuhnya di kursi sudut teras. Tatapan matanya kosong memandang lurus ke depan. Seandainya ayahnya tidak meninggal, tentu hidupnya tidak akan sesulit ini, keluhnya dalam hati. Seandainya waktu bisa diputar kembali menuju titik awal keberangkatan hidupnya, keluhnya lagi. Namun hatinya yang paling dalam menyadari itu semunya. Manusia boleh berandai-andai, tetapi Tuhanlah yang menentukan segalanya. Harta dan kebahagiaan sangat mudah meninggalkan kehidupan ini, bahkan dalam sekejap. Dina sangat sadar bahwa kehidupan seperti roda yang berputar, kadang di atas, di samping kiri kanan, dan terkadang pula di bawah. Aku seharusnya tidak boleh menangis merasakan kondisi seperti sekarang ini, karena toh aku sudah pernah menikmati kebahagiaan itu, katanya dalam hati. Kenapa aku tidak rela ketika bergantian dengan orang lain untuk juga merasakan kebahagiaan dengan harta yang berlebih? Tanyanya dalam hati. Kenapa aku harus iri atau dengki ketika melihat sahabat-sahabatku dulu yang hidup susah dan sekarang sukses? Kenapa aku tak rela melihat semuanya itu? Lanjutnya menanyakan pada dirinya sendiri.
Dina memperbaiki letak duduknya. Seharusnya aku bersyukur karena sudah memiliki pekerjaan tetap dengan gaji yang rutin kuterima tiap bulan. Tentu masih ada dan banyak orang-orang yang lebih sulit hidupnya dariku, katanya lagi dalam hatinya. Ataukah aku belum siap menghadapi kenyataan hidup ini? Suami, anak-anak dan ibuku yang sudah tua, semuanya menjadi bebanku. Ternyata berlimpah fasilitas tidak memberikan kemandirian pada seseorang, juga membuat aku tidak siap menghadapi kesulitan hidup. Aku tidak terbiasa dengan tempaan-tempaan derita. Atau aku saat itu telah melupakan isyarat alam, bahwa ada pagi tentu ada malam, kemarau selalu berpasangan dengan hujan, seperti bahagia selalu menanti datangnya derita. Kalau dulu aku berlimpah bahagia, wajar saatnya sekarang aku berteman dengan kesulitan-kesulitan dalam hidup. Di dunia ini semuanya berpasang-pasangan, ucapnya di dalam hatinya. Dina bangkit dari duduknya saat melihat Firza datang. Ia kemudian membukakan pintu pagar. Motor Firza menderu masuk.
“Obatnya bawakan bapakmu, Fi”, perintah Dina. Setelah memperbaiki letak motornya, Firza kemudian masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar orang tuanya.
“Buuu….!” Teriak Firza dari dalam kamar. Dina tersentak dan lari menuju kamar.
“Ada apa Fi?”
“Bapak, bu. Dada bapak sakit sekali”, kata Firza menjelaskan.
Dina mendekat ke tempat tidur. Dilihat suaminya mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya kuat-kuat. Dina sudah paham penyakit suaminya itu. Lalu Dina menyuruh anaknya ke rumah pak RT yang hanya berjarak tiga rumah untuk meminjam mobilnya. Karena kalau suaminya begitu harus segera ke rumah sakit dan segera mendapat pertolongan oksigen.
Firza pun bergegas pergi dan tak lama nampak pak RT dan mobilnya sudah siap di depan rumahnya. Dipapah perlahan-lahan suaminya.
“Mari pak Brata”, sambut pak RT sambil membukakan pintu bagian belakang. Dina duduk mendampingi suaminya yang masih mengerang kesakitan. Pak RT segera tancap gas menuju rumah sakit.
Di selasar rumah sakit, Dina duduk ditemani anaknya, Firza. Dokter tadi mengatakan kalau suaminya harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari sampai pulih penyakitnya. Dina tertunduk lesu. Wajahnya nampak lelah.
Ia mendekap Firza yang ada di sampingnya. Cobaan hidupnya belum selesai, katanya dalam hati. Tapi ia mensyukuri karena suaminya bisa terselamatkan. Air mata Dina mengalir lembut di pipinya. Ia merasa harus selalu siap meniti waktu di tepi hari yang masih panjang. Ya Allah, berikan hambamu ini kekuatan dan kesabaran, doa Dina dalam hati. Ia berjanji akan selalu tegar menghadapi setiap cobaan.
“Bu…”. Firza memeluk erat-erat ibunya.
Senja pun menggugurkan butir-butir air gerimis. Lembut angin mendinginkan suasana di selasar rumah sakit. Dina mencoba tersenyum di depan wajah Firza. Ia ingin menyembunyikan galau di hatinya. Ia ingin gerimis yang menggelisahkan segera reda, seperti gelisah di hati Dina.
Parepare, 2007.










Selimut Jingga Untuk Kekasihku
Liana, jika suatu saat kau menerima kiriman paket sebesar kotak sepatu, itu adalah paket dariku yang aku kirimkan dari suatu tempat. Maaf, aku tidak bisa menuliskan namaku di paket itu dan dari mana aku mengirimkannya. Sebab, jika orang-orang tahu paket itu kiriman dariku, aku tidak bisa menjamin paket itu akan sampai kepadamu. Jika mereka tahu dari mana aku mengirimkannya, mereka akan memburuku untuk menghukumku.
Bukalah paket itu, Liana. Tapi, harus aku ingatkan kepadamu, jangan kau buka paket itu di tempat sembarangan. Jangan kau buka di ruang tengah rumahmu, apalagi langsung kau buka di depan tukang pos yang mengantarkannya. Oh ya, berikan sedikit uang tip kepada tukang pos yang telah mengantarkan paket itu karena ia telah dengan selamat mengantarkan paket itu kepadamu. Bawalah paket itu ke kamarmu saja, dan pastikan jendela kamarmu tertutup semuanya. Jangan biarkan orang lain di luar rumahmu mengintipnya. Pastikan juga tidak ada celah sedikitpun. Jika masih ada celah di kamarmu, sementara kau buka paket itu, orang-orang akan berdatangan dengan segera ke rumahmu untuk mengambil kembali isi paket yang telah kukirimkan dengan susah payah kepadamu.
Ya, aku tahu kau pasti akan bertanya-tanya apa isi paket yang akan aku kirimkan itu, sampai-sampai aku harus memperingatkanmu. Isi paket itu kukirimkan hanya untukmu, Liana. Sejak kau menerimanya, hanya kaulah satu-satunya perempuan yang akan memilikinya, bahkan satu-satunya manusia yang memiliki isi paket itu. Paket itu berisi selimut jingga yang telah kucuri diam-diam dari senja. Ah, pasti kau akan tahu, mengapa akhir-akhir ini senja tidak lagi berwarna jingga.
Ya, ya. Kau pasti akan bertanya-tanya mengapa aku bisa mencuri selimut jingga itu dari senja. Baiklah, aku akan menceritakannya kepadamu. Mungkin aku tidak bisa menceritakan secara keseluruhan perjalanan yang aku lalui sampai aku bisa mengirimkan paket berisi selimut jingga itu kepadamu. Aku hanya bisa menceritakan garis besarnya saja. Kau tahu, waktuku tidak cukup banyak di satu tempat untuk menuliskan kisah yang panjang. Orang-orang masih terus mencariku, dan aku harus bersembunyi dari kejaran mereka. Saat aku menuliskan surat ini, paket berisi selimut jingga telah siap untuk kukirimkan, tapi aku harus mencari kantor pos yang cukup aman untuk mengirimkannya. Mungkin, surat ini akan tiba selang beberapa hari, mungkin bulan, bahkan tahun sebelum paket berisi selimut jingga itu datang kepadamu. Semoga kau sabar menunggunya, Liana.
Baiklah, aku akan menceritakannya. Kau masih ingat, kau pernah bercerita dalam suratmu kepadaku tentang Alina, temanmu yang mendapat kiriman sepotong senja seukuran kartu pos dari kekasihnya, dan kau begitu iri kepadanya. Lantas, kau memintaku untuk mengirimimu sepotong senja yang lain. Tahukah kau, membaca suratmu itu, aku juga merasa iri kepada kekasih Alina. Ia sungguh telah menghadiahkan hadiah paling indah kepada kekasihnya. Aku bertanya kepada diriku sendiri, apa yang telah aku hadiahkan kepadamu.
Setelah membaca suratmu itu, setiap senja aku selalu melamun di tepi pantai, menunggu senja terindah yang bisa aku kerat diam-diam untuk kukirimkan kepadamu. Tetapi aku selalu gagal, orang-orang begitu ramai mengagumi senja di tepi pantai bersama kekasih-kekasih mereka, keluarga-keluarga mereka, teman-teman mereka. Dan itu semakin membuatku tersiksa mengingatmu, Liana. Sendirian aku selalu menunggu saat-saat yang tepat untuk mengerat senja diam-diam tanpa sepengetahuan mereka.
Lalu, pada suatu senja, entah senja keberapa sejak aku mulai menunggu di tepi pantai itu, pantai terlihat sangat ramai dari biasanya. Aku baru ingat kalau senja itu adalah senja terakhir di tahun itu. Orang-orang mungkin ingin menitipkan kesusahan, penderitaan dan rasa sakit mereka di tahun itu bersama tenggelamnya matahari terakhir. Mungkin mereka berharap, di tahun-tahun mendatang, segala kesusahan, penderitaan dan rasa sakit itu tidak akan kembali lagi. Melihat keramaian yang tidak biasanya itu, rasa sakitku mengingat kesendirian tanpamu semakin terasa. Aku memutuskan untuk menyingkir dari keramaian dan berjalan ke salah satu sisi pantai paling ujung yang sepi, tidak ada siapapun di sana. Tahukah kau, Liana, apa yang aku temukan di ujung pantai itu?
Di ujung pantai itu hanya ada aku dan kesunyian. Dalam tingkahan suara camar dan debur ombak aku duduk di atas salah satu karang yang terasing dari kumpulannya. Senja begitu indah jika dilihat dari sana, Liana. Pantulan cahaya jingga yang berenang-renang di atas permukaan air membawakan kerinduanku kepadamu. Lalu aku melihatnya, Liana. Aku melihat salah satu ujung selimut jingga yang menutupi senja. Ujung selimut itu melambai-lambai dipermainkan ombak. Seketika aku merasa sangat bahagia, Liana. Akhirnya aku telah menemukan hadiah terindah yang akan kupersembahkan kepadamu, lebih indah dari hadiah yang pernah diterima oleh Alina dari kekasihnya.
Dengan gerak yang sangat cepat aku tarik ujung selimut jingga itu. Kau tahu apa yang terjadi setelah itu, Liana? Senja seketika menjadi hitam, gelap. Matahati yang telah tenggelam lebih dari separuhnya menjadi putih pucat. Bersamaan dengan itu aku mendengar dari kejauhan jeritan serentak orang-orang. Sesaat kemudian aku mendengar suara keributan. Orang-orang panik. Anak-anak kecil menangis. Para pemuda marah dan memaki-maki. Mungkin kemesraan mereka dengan kekasih-kekasih mereka terganggu dengan hilangnya jingga dari senja yang mereka tuntut untuk menjadi saksi cinta kasih mereka di penghujung tahun itu.
Segera aku lipat selimut jingga yang telah kucuri dari senja, sebelum orang-orang menyadari bahwa selimut jingga dari senja telah aku curi. Selimut jingga itu begitu tipis hingga dapat kulipat menjadi selebar buku catatan, dan ketebalan lipatan itu tak lebih dari tebal kitab suci yang dulu semasa kecil sering kita baca bersama di surau dan madrasah. Lalu aku selipkan selimut jingga itu ke dalam jaketku dan aku berjalan menjauh dari pantai, berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Namun rupanya, jaketku tak cukup tebal untuk menahan pancaran cahaya jingga selimut itu. Cahaya jingga berpendar dari seluruh tubuhku, dan orang-orang mulai menyadari akulah yang telah mencuri selimut jingga dari senja. Mereka mengejarku beramai-ramai, Liana. Anak-anak, lelaki dan perempuan, tua dan muda, semuanya berteriak di belakangku. Geram, kesal dan marah terbawa bersama teriakan-teriakan mereka. Aku berlari sekencang-kencangnya. Kutelusuri jalan-jalan kecil, gang, dan lorong-lorong untuk bersembunyi. Sengaja aku tidak mengambil jalan utama, karena dengan mudah orang-orang bisa mengejarku dengan motor-motor dan mobil-mobil mereka, dan aku pasti tertangkap.
Sia-sia saja aku berbelok-belok, menembus jalan dan lorong-lorong kecil untuk menghindar dari kejaran mereka. Orang-orang dengan mudah menandai keberadaanku dengan cahaya jingga yang berpendar dari sekujur tubuhku. Aku sempat putus asa, Liana. Aku tergoda untuk menyesali perbuatanku mencuri selimut jingga dari senja, dan ingin menyerahkan saja selimut jingga yang ada di balik jaketku kepada mereka yang mengejarku, untuk kembali di hamparkan di cakrawala. Namun, keinginanku yang begitu kuat untuk bisa memberimu hadiah terindah, mengalahkan segala godaan itu. Aku terus berlari dan berlari, hanya sesekali berhenti untuk menarik nafas dan memilih jalan mana yang selanjutnya akan kulewati. Di saat aku berhenti itulah seketika keringat mengalir dari seluruh pori-poriku.
Aku berlari membelok pada sebuah jalan kecil di sisi pemakaman yang tak berpagar. Malam telah lama beranjak sejak kucuri selimut jingga dari senja. Cahaya jingga yang berpendar dari balik jaketku remang menerangi barisan nisan yang tegak dalam diam. Aku ngeri sebenarnya, membayangkan orang-orang mati di pemakaman itu mendadak bangkit dan ikut mengejarku. Ah, tidak ada alasan bagi mereka untuk mengejarku. Orang mati tidak akan pernah kehilangan jingga dari senja. Mereka telah terbiasa dengan kegelapan. Apakah kau sependapat denganku, Liana?
Kegelapan? Mendadak muncul gagasan dalam benakku. Aku tergoda untuk menggali sebidang tanah di pemakaman itu dan menyembunyikan selimut jingga di sana. Lalu aku akan lari entah kemana dan bersembunyi lama sampai orang-orang bosan mengejarku. Aku akan menunggu sampai orang-orang telah terbiasa kehilangan jingga dari senja. Setelah itu, kembali akan kugali sebidang tanah itu dan membawa selimut jingga itu dengan aman tanpa takut ada yang mengejarku, toh orang-orang sudah tidak akan tahu jika senja pernah berwarna jingga. Seulas senyuman mengembang dari bibirku memikirkan hal itu.
Tapi, tunggu dulu, Liana. Siapa yang bisa menjamin bahwa selama aku menunggu, pemakaman itu akan tetap menjadi pemakaman? Mungkin saja sebulan atau setahun lagi pemakaman itu sudah berganti menjadi pusat perbelanjaan atau perkantoran. Kau tahu. Liana, pembangunan di kota yang tengah kusinggahi ini sedang pesat-pesatnya. Hutan-hutan ditebang untuk membuka perumahan dan pabrik-pabrik. Taman-taman kota diratakan untuk membuat jalan-jalan layang dan jalan tol. Tanah-tanah lapang disulap menjadi gedung-gedung bertingkat. Kau tahu, Liana, anak-anak kecil di kota yang kusinggahi ini sudah tidak punya lagi tempat bermain bola, layang-layang, gobak sodor dan permainan lainnya yang dulu semasa kecil sering kita mainkan bersama kawan-kawan kita. Tempat bermain mereka kini berpindah di dalam gedung-gedung dan mall-mall. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang hanya bermain di depan layar tivi, komputer dan playstation.
Liana, dengan alasan itulah aku mengurungkan niatku menggali lubang untuk menyembunyikan selimut jingga di dalam tanah. Biarlah selimut jingga tetap di balik jaketku dalam pelarianku.
Aku berlari masuk ke hutan-hutan, sebisa mungkin jauh dari manusia, sambil memikirkan bagaimana caranya untuk menyembunyikan cahaya jingga yang kucuri dari senja agar tidak mengundang kecurigaan orang-orang. Pastinya, di kota yang kusinggahi itu, telah tersebar kabar bahwa jingga telah dicuri oleh seseorang. Besok, ciri-ciri dan reka wajahku pasti tercetak di koran-koran, terpampang di dinding-dinding dan tiang listrik; dan tersiar di berita-berita.
Aku yakin malam telah sangat larut saat aku menemukan sebuah gua kecil di tengah hutan itu, lebarnya tak sampai serentangan kedua tanganku. Aku memasukinya. Kusandarkan tubuhku yang lelah di dinding gua. Aku buka jaketku dan kuletakkan selimut jingga yang terlipat di atas tanah. Dengan cahaya jingga yang berpendar dari selimut itu, aku bisa melihat seisi gua. Dinding-dindingnya lembab dan berlumut. Beberapa ekor tikus berlari menjauh dariku, sementara serangga-serangga kecil beterbangan mengitari dan hinggap di selimut jingga itu.
Kembali di benakku muncul sebuah gagasan. Kenapa tidak aku tinggalkan saja selimut jingga itu di dalam gua, dan membiarkan mahluk-mahluk di dalam gua yang telah lama hidup dalam kegelapan, akhirnya bisa menikmati cahaya. Kutinggalkan selimut jingga itu di kedalaman gua, sementara aku perlahan melangkah keluar. Sesampainya aku di mulut gua, tanpa sengaja kepalaku mendongak ke langit. Kau tahu apa yang kulihat di sana, Liana? Ya, hadiah lain yang kukirimkan dalam paketku bersama selimut jingga itu.
Di langit itu aku melihat kegelapan. Kegelapan yang sempurna. Hitam, pekat. Bintang-bintang tak ada. Bulan pun tak ada. Senyum lebar mengembang di bibirku. Senyum kemenangan. Senyum kebahagiaan. Betapa bahagianya aku jika memikirkan saat-saat itu, saat aku akhirnya menemukan jalan agar bisa mengirimkan selimut jingga itu kepadamu. Kau pasti tidak akan pernah mengira, jika kegelapanlah yang akhirnya menyelamatkanku, menyelamatkan selimut jingga itu.
Dengan pisau lipatku, kukerat langit malam selebar kurang lebih satu meter. Aku kembali melangkah ke dalam gua untuk mengambil selimut jingga itu. Selimut jingga yang telah kucuri dari senja itu kubungkus dengan keratan langit malam itu. Ajaib. Cahaya jingga senja lenyap di dalam balutannya. Aku lega. Dengan bungkus keratan langit malam itu juga akhirnya aku kirimkan selimut jingga yang kucuri dari senja kepadamu, Liana. Jika suatu saat kau menerima kiriman paket sebesar kotak sepatu, jangan kaget kalau di dalamnya ada hadiah terindah yang bisa kupersembahkan kepadamu, Liana. Ya, hadiah itu adalah selimut jingga yang telah kucuri dari senja yang kubungkus dalam sekerat langit malam.











Pantai Dalam Kamarku

Entah bagaimana menceritakannya. Meski terdengar aneh, tapi benar-benar ada pantai dalam kamarku. Benar, pantai yang memiliki pasir, karang, ombak, pohon-pohon kelapa dan sekelompok burung camar yang datang dari arah cakrawala; ditambah matahari yang hanya dapat terlihat di kala terbitnya saja. Bukan sekedar gambar pantai penghias dinding.
Pagi itu, aku terbangun dengan tubuh telah basah kuyup. Semula aku pikir ini pasti ulah ibu atau Cholis, adikku. Walau telah terbiasa dengan cara khas mereka dalam membangunkan orang yang sulit terjaga, aku tetap saja merutuk habis-habisan. Dengan mata masih terpejam tanganku berusaha meraih jam weker yang biasanya terletak di samping kiri ranjang. “Boleh mereka mengguyurku, asal di waktu yang tepat. Kalau belum terlambat benar, dan mereka sudah main siram, awas saja!” Ujarku geram masih dalam keadaan terpejam.
Tapi kemudian aku malah tak menemukan jam weker sialan itu. Tidak juga suara omelan ibu atau tawa Cholis yang bisa menjelaskan keadaan ini padaku. Kupaksakan untuk membuka mata. Sekonyong-konyong wajahku langsung menghadap langit telanjang tanpa peneduh. Aku spontan bangkit dari ranjangku seraya mengumpat, “sialan! Tempat apa ini?”
Tak disangka, kini aku sedang berada di sebuah pantai. Pantai yang lengkap dengan pasir, karang, ombak, pohon-pohon kelapa, dan sekelompok burung camar yang datang dari arah cakrawala; ditambah matahari yang hanya dapat terlihat di kala terbitnya saja. Tapi jelas ini bukan mimpi, karena aku bisa merasakan riak-riak air memecah lewat ujung-ujung jari kaki.
Pasti ada penjelasan logis atas keganjilan ini. Mungkin saja semalam, setelah berpesta alkohol bersama teman-teman, aku singgah sebentar di pantai ini. Meracau sendiri hingga lupa waktu. Sampai kemudian tertidur pulas, dan akhirnya mendapati diri sedang menggerutu keesokan harinya.
Tapi setelah aku perhatikan dengan seksama, pantai tersebut bukanlah seperti pantai yang ada di kotaku, bahkan di kota mana pun di dunia ini. Pantai ini terlalu indah, selaksa belum pernah terjamah. Anehnya, aku masih bisa melihat dinding-dinding kamarku, juga lemari, televisi, ranjang, karpet, jendela dan daun pintu yang menempel pada seonggok batu karang raksasa. Pintu tersebut dapat menghubungkanku dengan koridor lantai dua, tempat di mana seharusnya kamarku berada. Mengertilah aku, bahwa sebenarnya aku masih dalam kamarku sendiri. Hanya saja kamar ini bertambah luas beberapa puluh kali lipat dari ukurannya semula.
Sontak aku menjerit. Jeritanku menyentakkan anggota keluarga lain yang telah siap untuk sarapan. Kuceritakan apa yang terjadi dalam kamarku pada mereka. Namun tak ada yang percaya. Ibu hanya tertawa, sedangkan bapak acuh saja. Dina, kakakku yang pagi itu agak terlambat bergabung di meja makan, malah menyarankan kepada kedua orangtuaku agar membawaku berkonsultasi ke dokter Abdul Majid, psikiater tersohor di kota ini.
“Aku tidak gila,” sergahku yang lalu di balasnya dengan tawa cekikikan menjengkelkan.
Ia malah terus-terusan menggodaku dengan olok-olokan seperti : “Ghaza gila” atau
“Telepon dokter Abdul Majid, yah!”
“Kalau tidak percaya, lihat saja sendiri” balasku sengit.
“Ah, ogah, nanti jadi ikutan gila kayak kamu. Ghaza gila, we...”
“Errghhh....”
“Kak Ghaza, aku percaya padamu,” Celetuk Cholis tepat sebelum aku melempar garpu ke muka saudariku yang menyebalkan itu.
“Sudah, kamu mandi sana!” tukas ibu. “Entar terlambat lagi. Ibu, ayah, dan kakakmu berangkat dulu. Mungkin malam ibu baru pulang. Makanan sudah ada di kulkas tinggal dipanasi saja.”
“Dasar gila,” goda dini sambil memeletkan lidah. Aku hanya bisa mengepalkan tinju ke arahnya.
Aku tertegun melihat sikap keluargaku yang tak peduli. Hanya Cholis yang sungguh percaya dengan ceritaku, “kak, nanti siang cepat pulang ya. Aku ingin sekali melihat pantai yang kau ceritakan,” ujarnya sebelum berbalik menuju gerbang SD Tunas Muda. Sekolah kami searah, membuatku harus meboncengnya tiap pagi.
Nyatanya, selain Cholis, tidak ada lagi yang sudi percaya pada omonganku. Tidak juga teman-teman segengku. “Ah, kawan, tampaknya akhir-akhir ini, alkohol mulai menggerogoti otakmu. Sebaiknya kau tak usah ikut pesta malam ini. Istirahat saja di rumah,” saran Sigit, sahabatku.
“Bagaimana bisa aku istirahat? Suara ombak yang gaduh itu tak bisa membuatku tenang,” kilahku.
“Wah, kegilaan yang tak bisa terselamatkan lagi,” seloroh kawanku lainnya yang sering dipanggil Prof. Kontan kata-katanya langsung disambut koor kawan-kawan lain menertawaiku. Huh, si Prof itu lama-lama tampak sama menyebalkannya dengan kakakku. Jika bukan sahabat dari kecil, mungkin sudah aku kemplang kepalanya yang gundul itu.
Cholis benar-benar menungguku sepulang sekolah. “Kak, ayo perlihatkan pantaimu padaku,” Katanya dengan nada riang.
Aku bilang, “Sabar, sabar... aku cari kuncinya dulu. Nah, ini dia! Masuk di hitungan ketiga ya. Satu... dua...”
Cholis tampaknya sudah tidak sabar. Segera ia mendorong pintu kamar sebelum hitunganku berakhir. Aku sedikit geli melihat mulutnya yang diapit dua belah pipi membuntal itu ternganga. Pantai dalam kamarku ini masih seperti tadi pagi. Hanya saja matahari mulai sedikit condong ke arah barat. Rupanya ia benar-benar mengikuti siklus yang terjadi di alam nyata.
“Kak! Ayo kita berenang,” ajak Cholis yang tahu-tahu telah menceburkan dirinya ke air laut yang biru menggoda.
“Ayo!”
Kami berdua beradu cepat sampai ke tepian batu karang yang agak dangkal, dan memutuskan untuk bermain kejar-kejaran di sekitar situ. Ah, andai ibu dan ayah ada di sini, juga Dini, sejahat apa pun ia padaku.
Tiba-tiba Cholis menghilang, “Lis, Cholis! Di mana kau?” Panik aku mencarinya.
“Cholis,” aku berenang menyusuri tepian karang yang dangkal itu. “Kau di mana?” aku pindah ke daerah yang lebih dalam. Sedikit khawatir, sebab aku masih belum mahir berenang.
“Burrrr....,” tiba-tiba Cholis muncul tepat di depan hidungku dan menyemburkan air laut dari mulutnya. Tanpa rasa bersalah bocah tengil itu lantas terbahak sembari berenang menjauh.
“Brengsek! Hei gembul, pengen di hajar ya?” aku hampir lupa kalau Cholis, dengan badannya yang tambun itu, pernah menggondol medali perak dalam sebuah kejuaraan polo air antar sekolah. Terengah-engah aku berusaha menyamai kecepatannya. Namun lagi-lagi, aku sial. Anak itu menghilang tanpa aku tahu dia di mana.
Tak berapa lama aku merasakan sesuatu menarik-narik kakiku. Ah, Cholis, berhentilah menggodaku, batinku. Tapi rasanya mustahil itu adalah tangan seorang anak kecil. Dia lebih menyerupai temali raksasa yang licin melilit-lilit.
Tarikan yang kurasakan semakin kuat. Aku mulai meronta. Tapi tarikan itu malah makin bertambah hebat. Nafasku tersenggal. Beberapa kali aku menelan air asin. Beberapa kali pula kepalaku terbenam. Dan dalam sekelebat aku seperti melihat sesuatu. Bentuknya seperti tubuh anak kecil gemuk yang dibawa lari gumpalan-gumpalan hijau mirip monster ganggang.
Aku sempat melolong minta tolong. Tapi terlambat. Semua mendadak gelap entah berapa lama. Sampai kemudian, berangsur-angsur, kesadaranku pulih. Sekonyong-konyong, aku langsung merasakan sakit pada bagian tengkuk sampai punggung. Serasa aku tengah menanggung sesuatu yang teramat keras dan berat.
Sejurus kemudian, aku menyadari bahwa aku tengah berada dalam sebuah ruangan sempit. Begitu sempitnya hingga tubuhku harus tertekuk sampai hidung hampir menyentuh lutut. Dalam ruangan ini aku hanya dapat meraba karena keadaan di sekitarku gelap pekat. Tak ada sinar seberkas pun.
Perlahan-lahan kugerakkan tubuhku. Tapi ruangan keparat ini benar-benar sangat terbatas. Aku teringat akan Cholis. Beberapa kali aku panggil namanya, berharap dia ada di sekitar sini. Nihil, aku rupanya sedang terjebak sendiri.
Dalam gelap, aku mulai meraba lagi. Sepertinya tanganku bengkak dan kulitku jadi sedikit bersisik menjijikkan. Sementara, tulang belulangku seakan rapuh dan lunglai. Namun itu semua tak menghentikanku, dengan bibirku yang tambah menebal, kuketuk dinding ruangan yang ternyata agak lembut walaupun sedikit lembab itu berkali-kali. Usahaku belum membuahkan hasil. Kucoba mengetuk-ngetuk dinding berbentuk kubah yang letaknya tepat di atas kepalaku. Ah, yang ini agak sedikit lunak.
Dengan bersusah payah dinding itu pun akhirnya retak dan membentuk satu rekahan. Tapi, astaga, beberapa butiran kecil mendadak keluar dari rekahan itu.
“Pasir,” desisku.
Secara refleks, mataku terkatup menghindari semburan pasir yang menekan dari atas kepala. Oh, rupanya dari tadi aku sedang meringkuk di dalam sesuatu yang terpendam dalam pasir. Sejenak aku berpikir, jangan-jangan pasir itu adalah pasir yang ada di pantai dalam kamarku.
Aku menjadi bersemangat. Dengan daya yang masih tersisa, kuterobos hujan pasir itu. “Ayo, ayo!” seruku pada diri sendiri. Sejenak, aku membuka mata sedikit. Ada cahaya menerobos dari celah di atas sana. Aku makin bersemangat.
Ternyata semua usahaku tidak sia-sia. Sampai juga aku ke tempat di mana cahaya tadi berasal. Dan ternyata, benar dugaanku, aku kembali ke pantai. Pantai yang ada dalam kamarku.
Namun sejurus kemudian aku sadar. Tempat ini tampaknya jauh lebih besar. Pasir, karang, ombak, pohon-pohon kelapa dan sekelompok burung camar yang datang dari arah cakrawala, semua tampak bertambah ukurannya dibanding sebelumnya.
“Hei, apa yang kau lakukan? Ayo lari!” seru sebuah suara di belakangku. Aku menoleh. Tapi aku tak melihat siapa-siapa, hanya segerombolan tukik yang baru keluar dari sebuah lubang dan kelihatannya mereka tampak ketakutan.
“Siapa tadi yang bicara ya?” gumamku.
“Jangan diam saja. Ayo selamatkan dirimu.”
Astaga, yang benar saja. Tadi yang bicara itu seekor tukik rupanya. Aku pun menuruti seruannya. Ikut berlari menyelamatkan diri entah dari apa. Tapi tubuhku sama sekali tak bisa berdiri. Aku hanya bisa merangkak seperti tukik-tukik itu. Aneh, aku seperti merasakan sebuah dorongan yang kuat untuk merangkak ke arah matahari yang baru terbit.
“Permisi, aku mau tanya. Walau ini agak aneh bagiku. Tapi, maaf, kita sedang lari dari apa? Dan ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa bicara denganku? Bukankah, kita dua makhluk yang berbeda?” tanyaku pada tukik itu masih dengan merangkak setengah berlari.
“Dalam keadaan seperti ini kau masih bicara yang aneh-aneh. Tentu saja kita sedang lari dari camar-camar yang ada di atas sana. Kau pasti tak ingin tubuhmu yang masih muda itu jadi sarapan mereka”
“Omong kosong, bagaimana bisa mereka memakanku. Aku manusia, sedangkan mereka hanya burung camar.”
“Ah, rupanya aku tengah bicara dengan seekor tukik yang sedang bermimpi jadi manusia,” tukikitu seolah tak ingin mempedulikanku lagi. “Sudah, selamatkan dirimu sendiri saja”
Binatang berkerapas itu menjauh. Langkahnya dipercepat. Tapi malang baginya, belum sampai beberapa senti, seekor camar tiba-tiba menyambar lalu mematuk kepalanya. Adegan ini memberi pengaruh rasa takut yang hebat bagiku. Kusegerakan langkahku menuju lautan. Tapi kerapas berat yang dari tadi kugendong di punggungku ini benar-benar merepotkan dan memperlambat langkahku.
“Tuhan, benarkah aku kini telah berubah menjadi seekor tukik?” dalam kondisi begini barulah aku menyebut namaNya lagi. Aku terus merangkak setengah berlari sembari mengingat-ngingat kembali beberapa zikir yang dulu sering diajarkan guru mengajiku. Mulutku komat-kamit sambil terus berharap semoga ini hanyalah mimpi. Tiba-tiba timbul rasa penyesalanku kala mengingat kenyataan bahwa aku telah kehilangan Cholis, “semoga dia selamat.”
Akhirnya aku mampu mencapai garis pantai. Sementara di langit sana, tampak beberapa ekor camar yang tampangnya menjadi terlihat ganas bagiku. Aku coba menoleh, namun pemandangan yang terlihat membuatku hampir muntah. Beberapa ekor camar mencabik-cabik tubuh tukik-tukik yang lemah dengan paruh tajam mereka.
Namun, tak ada yang lebih mengerikan dari apa yang kulihat di permukaan air. Wajah terkutuk itu. Benar, itu adalah wajahku. Wajah yang penuh kerut dan sisik hijau tua. Dengan mata yang tampak berair dan mulut yang sedikit bertambah jongang. Aku benar-benar telah menjelma menjadi seekor binatang melata.
Setelah itu, aku merasa tubuhku tiba-tiba melayang. Tinggi, bertambah tinggi. Laut dan daratan di bawahku tampak semakin mengecil. Sebentuk cakar yang kekar mencengkeram punggungku. Aku pasrah, kubiarkan camar ini membawaku ke mana dia suka.
Dalam kepasrahanku, tiba-tiba kulihat sesuatu terambung-ambung di atas laut. Seperti seekor tukik yang sedang tengadah. Memandangku sembari memanggil-manggil. Insting hewaniku tersentak. Tukik itu seperti seseorang yang sangat kukenal. Seseorang yang dalam tubuhnya, mengalir darah sama dengan darah dalam tubuhku.***
Makassar, Mei 07