MENITI WAKTU DI TEPI
HARI
Berulang kali di
dorongnya air yang tergenang dengan sapu ijuk yang sudah patah gagangnya. Air
itu selalu menggenang bila hujan datang, karena atap terasnya agak rusak, juga
beberapa kayunya sudah lapuk. Suaminya belum ada kesempatan untuk memperbaiki,
sedangkan ia sendiri mulai Senin sampai Sabtu disibukan di kampusnya sebagai
dosen. Hari Minggu harusnya untuk istirahat, tapi pekerjaan yang menumpuk,
mulai dari cucian sampai kebersihan rumah membuatnya tak bisa istirahat.
Belum tuntas
membersihkan genangan air, ia duduk sambil meluruskan kaki yang terasa
pegal-pegal. Tangannya coba digerak-gerakan, dilipat dan diregangkan kembali.
Fisiknya terasa sudah menurun. Padahal umurnya baru empat puluh enam tahun.
Mungkin karena beban kerja yang terlalu berat, membuat fisiknya menurun,
keluhnya dalam hati.
Perjalanan hidup
memang sepertinya sangat bergelombang, bahkan kadang-kadang sangat curam dan
terjal. Ia sangat merasakan hal itu. Padahal dulu tak terpikirkan kalau
hidupnya akan cukup susah dan melelahkan begini.
Saat itu hidupnya
terasa tanpa beban. Hal itu ia rasakan semenjak ia lahir sampai duduk di
perguruan tinggi semester dua. Segalanya serba ada dan siap. Ayahnya sebagai
seorang direktur di sebuah usaha milik negara sangat berkecukupan. Ada enam
pembantu yang siap melayani segala aktivitas rumah tangganya, belum lagi tiga
sopir pribadi yang juga siap mengantar ke mana saja diperlukan. Mobil holden di
tahun tujuh puluhan ada tiga di rumah dinas ayahnya, juga sebuah mobil vw combi
selalu terparkir di halaman rumahnya yang luas.
Jika dibanding dengan
segala fasilitas yang ada, ia dan dua adiknya, tentu sangatlah berlebihan.
Ibunya pun hanya sibuk berorganisasi. Hingga terkadang ia memanggil teman-teman
sekelasnya untuk belajar di rumah. Teman-temannya sangat antusias kalau disuruh
belajar ke rumahnya. Maklum saja karena banyak kue dan buah-buahan dihidangkan
sambil belajar, belum lagi es jeruk buatan bibi Umi yang menjadi kesenangan
teman-temannya itu.
“Dina, putar dulu dong
lagu-lagunya Bimbo”, pinta Dendi sedikit berteriak dari sudut ruangan saat
belajar bersama.
“Oke. Bagaimana Wid?
Setuju ya?”, tanya Dina kepada Widya yang asyik menyalin tugas. Widya hanya
mengangguk. Dina lalu memutar piringan hitam yang ada di sisi kiri ruangan.
Dendi pun mengangkat ibu jari tangannya tinggi-tinggi kepada Dina.
Dan menjelang senja,
pak Man disuruh mengantar teman-temannya itu ke rumahnya masing-masing. Pak Man
yang disuruh mengangguk-angguk hormat dan cepat-cepat menuju sedan holden untuk
menghidupkan mesinnya. Pokoknya semua pembantu dan sopir yang ada selalu siap
disuruh ke mana saja diperlukan. Tak ada yang berani menolak. Bahkan mereka
sangat hormat, bukannya saja kepada ayahnya yang direktur itu, tetapi kepada
semua keluarganya. Bukan itu saja. Pekerjaan lain pun biasa mereka kerjakan
dengan patuh. Seperti pak Man, biasanya disuruh membuatkan anyam-anyaman dari
kulit bambu untuk tugas kerajinan yang disuruhkan oleh Dita, adik Dina yang
masih di SMP.
Saat itu pun banyak teman
laki-laki Dina yang sering mengungkapkan simpatinya. Maklumlah, selain cantik,
Dina juga salah satu anak orang terpandang dan kaya di kota itu. Ia juga
memiliki segala fasilitas yang diperlukan berbagai kegiatan dengan
teman-temannya. Dina ibarat magnet yang mampu menarik banyak teman laki-laki,
baik di kelasnya maupun di kelas-kelas lainnya. Tetapi yang rupanya mendapat
tempat di hatinya hanya Dendi. Mengetahui hal itu, Dendi pun memanfaatkannya
dengan baik dan selalu menjaga Dina kemana pun pergi.
Tetapi roda-roda
kehidupan sepertinya berputar. Saat Dina duduk di semseter dua sebuah perguruan
tinggi, ayahnya meninggal karena terkena serangan jantung. Semua itu
dikarenakan ayahnya terkena masalah yang secara tiba-tiba menjeratnya. Empat
gudang yang ada di perusahaannya habis terbakar. Ayah Dina dituduh
berkonspirasi dengan beberapa pihak untuk menghilangkan barang bukti kasus
defisit keuangan di perusahaannya. Dan sebelum ayahnya disidik oleh pihak yang
berwenang, ajal sudah menjemputnya. Ayahnya merasakan itu semua fitnah untuk
menjatuhkan kariernya di perusahaan milik negara itu.
Kehidupan kemudian
berbalik tiga puluh enam derajat. Ibu dan anak-anaknya diharuskan segera
meninggalkan rumah dinas dan semua fasilitas yang disediakan. Beberapa tabungan
ayah Dina di bank diblokir dan disita untuk mengganti kerugian perusahaan.
Tetapi untung saja ada kebijakan perusahaan yang memberikan pesangon dan uang
pensiun untuk ibu Dina.
Ibunya ditampung di
rumah adiknya yang jadi perawat di sebuah rumah sakit. Dina pun tetap
melanjutkan kuliah dengan uang pensiun yang ada. Hanya saja Dina dan
adik-adiknya merasa belum siap dengan kehidupan yang berbalik drastis, jauh
dari kecukupan. Karena terkadang tak ada lagi uang jajan di sakunya. Padahal
dulu sakunya selalu penuh dengan lembaran uang yang siap untuk
dihambur-hamburkan bersama teman-temanya.
Dengan terengah-engah
Dina akhirnya dapat menyelesaikan sarjananya dan kemudian diterima menjadi
tenaga pengajar di perguruan tinggi tempatnya kuliah. Kemudian menikah dengan
seorang insinyur bangunan, yang saat itu belum memiliki pekerjaan. Hanya saja
sampai kini suaminya terjun sebagai kontraktor dan memiliki usaha jasa
konstruksi.
“Assalamu’alaikum”,
salam suaminya yang tiba-tiba datang dan membuka pintu pagar. Dina terkejut. Semua
lamunan tentang masa lalunya jadi pecah berkeping-keping. Lalu ia bangkit
menjemput suaminya dan membalas salam. Sedangkan suaminya langsung masuk ke
dalam rumah. Dina pun mengikutinya dari belakang.
“Gagal lagi tenderku
kali ini, bu”, ucap suaminya seraya meremas-remas rambut di kepalanya. “Padahal
penawaranku sudah cukup rendah dibanding dengan kontraktor yang lain”, lanjut
suaminya dan melemparkan tubuhnya di atas sofa yang sudah pudar warnanya.
“Sabarlah, pak.
Mungkin besok ada perubahan dari panitia”, jawab Dina membawa segelas kopi dan
diletakan di meja dekat suaminya duduk.
“Tapi sepertinya ada
permainan dalam tender tadi. Sepertinya ada kepentingan dari para pejabat yang
akan dipaksakan dan memenangkan salah satu rekanan yang menjadi koleganya”.
“Jangan berprasangka
buruk begitu. Mungkin masih ada kesempatan di tempat lain”, ucap Dina berusaha
menenangkan hati suaminya. Dina sangat paham, kalau pekerjaan suaminya memang
butuh kemampuan melobi kiri-kanan untuk mendapatkan pekerjaan. Tapi terkadang
dalam satu masa tahun anggaran tak satu pun pekerjaan yang ia dapatkan. Maka
gaji Dinalah yang menjadi tumpuan untuk dapat memutar roda keluarganya. Belum
lagi dua anaknya yang membutuhkan biaya. Anak yang sulung sementara semester
tiga di fakultas kedokteran, sedangkan yang bungsu baru duduk di kelas dua SMA.
Bagaimana tidak terasa berat beban di pundak Dina kalau memikirkan semuanya
itu. Fisiknya sebagai wanita yang belum terlalu tua terasa semakin rapuh.
Kadang ia malu jika bertemu teman satu sekolahnya dulu yang masih nampak segar
dan cantik.
“Reza ke mana, bu”,
tanya suaminya mencari anak bungsunya.
“Pergi les bahasa
Inggris bersama teman-temannya. Kenapa, pak?”
“Saya mau suruh cuci
motor”, jawab suaminya lalu beranjak menuju kamar mandi. “Jangan lupa belikan
obat, sisa obatku tinggal satu kali minum”, lanjut suaminya mengingatkan. Dina
hanya mengangguk. Diambilnya sisa-sisa uang belanja tadi pagi lalu dihitungnya.
Tak cukup. Diambilnya uang di laci lemari yang merupakan uang untuk persiapan
kebutuhan dalam satu bulan. Dina melirik kalender di sisi lemari. Baru tanggal
dua puluh, keluhnya. Persiapan uangnya sudah semakin menipis. Kalau pun tidak
beli obat, jangan sampai asma suaminya tambah parah. Bila itu terjadi, tentu
saja yang repot dirinya. Ia pasti akan mengantar suaminya bolak-balik ke
puskesmas untuk berobat dengan kartu kuningnya. Dina ibaratnya kepala rumah
tangga yang harus mengatur segala-galanya.
“Bu, sedang apa”, sapa
Firza, anak perempuannya yang baru pulang kuliah. Firza lalu mencium kedua pipi
ibunya. Ada kekuatan yang tiba-tiba mendorong kuat pada Dina untuk terus
berusaha tegar menghadapi hidupnya.
“Baru pulang, Fi”,
tanya ibunya. “Tolong belikan obat dulu untuk bapakmu di apotik Sumber Waras,
tempat biasa obatnya bapakmu dibeli”, kata ibunya sambil menyodorkan uang
kepada anaknya.
“Baik, bu”, jawab
Firza patuh. Dina mengelus lembut rambut anaknya. Perasaan di hatinya jadi
begitu tentram kalau melihat anak-anaknya itu. Semua kelelahan hidup jadi
hilang tak terasa. Dua anaknyalah yang selama ini menguatkan hatinya untuk
terus berjuang menghadapi segala kesulitan-kesulitan hidup.
Dina kembali lagi
menuju teras untuk melanjutkan pekerjaannya tadi. Dua tiga kali didorongnya
pakai sapu genangan air itu, terlihat sedikit mengering. Ia kemudian membersihkan
beberapa daun yang jatuh saat hujan tadi. Rumahnya yang hanya sedikit
pekarangannya, memang cukup mudah untuk dibersihkan. Dina dan keluarganya sudah
hampir empat tahun tinggal di kompleks perumahan itu. Ia mengkredit rumah tipe
36 itu selama sepuluh tahun. Sedang sebelumnya ia berpindah-pindah mengkontrak
rumah. Sampai sekarang Dina belum mampu untuk mengembangkan rumahnya itu,
sedangkan suaminya selalu berjanji bila sudah mendapatkan proyek akan segera
merenovasi rumahnya. Tapi kenyataannya, sudah akan memasuki tahun keempat
beberapa proyek yang ia kerjakan katanya selalu merugi. Aneh memang nampaknya
karena setiap proyek sudah memiliki perencanaan yang matang, bahkan ada
konsultannya.
Dina menyandarkan
tubuhnya di kursi sudut teras. Tatapan matanya kosong memandang lurus ke depan.
Seandainya ayahnya tidak meninggal, tentu hidupnya tidak akan sesulit ini,
keluhnya dalam hati. Seandainya waktu bisa diputar kembali menuju titik awal
keberangkatan hidupnya, keluhnya lagi. Namun hatinya yang paling dalam
menyadari itu semunya. Manusia boleh berandai-andai, tetapi Tuhanlah yang
menentukan segalanya. Harta dan kebahagiaan sangat mudah meninggalkan kehidupan
ini, bahkan dalam sekejap. Dina sangat sadar bahwa kehidupan seperti roda yang
berputar, kadang di atas, di samping kiri kanan, dan terkadang pula di bawah.
Aku seharusnya tidak boleh menangis merasakan kondisi seperti sekarang ini,
karena toh aku sudah pernah menikmati kebahagiaan itu, katanya dalam hati.
Kenapa aku tidak rela ketika bergantian dengan orang lain untuk juga merasakan
kebahagiaan dengan harta yang berlebih? Tanyanya dalam hati. Kenapa aku harus
iri atau dengki ketika melihat sahabat-sahabatku dulu yang hidup susah dan
sekarang sukses? Kenapa aku tak rela melihat semuanya itu? Lanjutnya menanyakan
pada dirinya sendiri.
Dina memperbaiki letak
duduknya. Seharusnya aku bersyukur karena sudah memiliki pekerjaan tetap dengan
gaji yang rutin kuterima tiap bulan. Tentu masih ada dan banyak orang-orang
yang lebih sulit hidupnya dariku, katanya lagi dalam hatinya. Ataukah aku belum
siap menghadapi kenyataan hidup ini? Suami, anak-anak dan ibuku yang sudah tua,
semuanya menjadi bebanku. Ternyata berlimpah fasilitas tidak memberikan
kemandirian pada seseorang, juga membuat aku tidak siap menghadapi kesulitan
hidup. Aku tidak terbiasa dengan tempaan-tempaan derita. Atau aku saat itu
telah melupakan isyarat alam, bahwa ada pagi tentu ada malam, kemarau selalu
berpasangan dengan hujan, seperti bahagia selalu menanti datangnya derita.
Kalau dulu aku berlimpah bahagia, wajar saatnya sekarang aku berteman dengan
kesulitan-kesulitan dalam hidup. Di dunia ini semuanya berpasang-pasangan,
ucapnya di dalam hatinya. Dina bangkit dari duduknya saat melihat Firza datang.
Ia kemudian membukakan pintu pagar. Motor Firza menderu masuk.
“Obatnya bawakan
bapakmu, Fi”, perintah Dina. Setelah memperbaiki letak motornya, Firza kemudian
masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar orang tuanya.
“Buuu….!” Teriak Firza
dari dalam kamar. Dina tersentak dan lari menuju kamar.
“Ada apa Fi?”
“Bapak, bu. Dada bapak
sakit sekali”, kata Firza menjelaskan.
Dina mendekat ke
tempat tidur. Dilihat suaminya mengerang kesakitan sambil memegangi dadanya
kuat-kuat. Dina sudah paham penyakit suaminya itu. Lalu Dina menyuruh anaknya
ke rumah pak RT yang hanya berjarak tiga rumah untuk meminjam mobilnya. Karena
kalau suaminya begitu harus segera ke rumah sakit dan segera mendapat
pertolongan oksigen.
Firza pun bergegas
pergi dan tak lama nampak pak RT dan mobilnya sudah siap di depan rumahnya.
Dipapah perlahan-lahan suaminya.
“Mari pak Brata”,
sambut pak RT sambil membukakan pintu bagian belakang. Dina duduk mendampingi
suaminya yang masih mengerang kesakitan. Pak RT segera tancap gas menuju rumah
sakit.
Di selasar rumah
sakit, Dina duduk ditemani anaknya, Firza. Dokter tadi mengatakan kalau
suaminya harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari sampai pulih
penyakitnya. Dina tertunduk lesu. Wajahnya nampak lelah.
Ia mendekap Firza yang
ada di sampingnya. Cobaan hidupnya belum selesai, katanya dalam hati. Tapi ia
mensyukuri karena suaminya bisa terselamatkan. Air mata Dina mengalir lembut di
pipinya. Ia merasa harus selalu siap meniti waktu di tepi hari yang masih
panjang. Ya Allah, berikan hambamu ini kekuatan dan kesabaran, doa Dina dalam
hati. Ia berjanji akan selalu tegar menghadapi setiap cobaan.
“Bu…”. Firza memeluk
erat-erat ibunya.
Senja pun menggugurkan
butir-butir air gerimis. Lembut angin mendinginkan suasana di selasar rumah
sakit. Dina mencoba tersenyum di depan wajah Firza. Ia ingin menyembunyikan
galau di hatinya. Ia ingin gerimis yang menggelisahkan segera reda, seperti
gelisah di hati Dina.
Parepare, 2007.
Selimut Jingga Untuk
Kekasihku
Liana, jika suatu saat kau menerima kiriman paket sebesar kotak
sepatu, itu adalah paket dariku yang aku kirimkan dari suatu tempat. Maaf, aku
tidak bisa menuliskan namaku di paket itu dan dari mana aku mengirimkannya.
Sebab, jika orang-orang tahu paket itu kiriman dariku, aku tidak bisa menjamin
paket itu akan sampai kepadamu. Jika mereka tahu dari mana aku mengirimkannya,
mereka akan memburuku untuk menghukumku.
Bukalah paket itu, Liana. Tapi, harus aku ingatkan kepadamu,
jangan kau buka paket itu di tempat sembarangan. Jangan kau buka di ruang
tengah rumahmu, apalagi langsung kau buka di depan tukang pos yang
mengantarkannya. Oh ya, berikan sedikit uang tip kepada tukang pos yang telah
mengantarkan paket itu karena ia telah dengan selamat mengantarkan paket itu
kepadamu. Bawalah paket itu ke kamarmu saja, dan pastikan jendela kamarmu tertutup
semuanya. Jangan biarkan orang lain di luar rumahmu mengintipnya. Pastikan juga
tidak ada celah sedikitpun. Jika masih ada celah di kamarmu, sementara kau buka
paket itu, orang-orang akan berdatangan dengan segera ke rumahmu untuk
mengambil kembali isi paket yang telah kukirimkan dengan susah payah kepadamu.
Ya, aku tahu kau pasti akan bertanya-tanya apa isi paket yang akan
aku kirimkan itu, sampai-sampai aku harus memperingatkanmu. Isi paket itu
kukirimkan hanya untukmu, Liana. Sejak kau menerimanya, hanya kaulah
satu-satunya perempuan yang akan memilikinya, bahkan satu-satunya manusia yang
memiliki isi paket itu. Paket itu berisi selimut jingga yang telah kucuri
diam-diam dari senja. Ah, pasti kau akan tahu, mengapa akhir-akhir ini senja
tidak lagi berwarna jingga.
Ya, ya. Kau pasti akan bertanya-tanya mengapa aku bisa mencuri
selimut jingga itu dari senja. Baiklah, aku akan menceritakannya kepadamu.
Mungkin aku tidak bisa menceritakan secara keseluruhan perjalanan yang aku
lalui sampai aku bisa mengirimkan paket berisi selimut jingga itu kepadamu. Aku
hanya bisa menceritakan garis besarnya saja. Kau tahu, waktuku tidak cukup
banyak di satu tempat untuk menuliskan kisah yang panjang. Orang-orang masih
terus mencariku, dan aku harus bersembunyi dari kejaran mereka. Saat aku
menuliskan surat ini, paket berisi selimut jingga telah siap untuk kukirimkan,
tapi aku harus mencari kantor pos yang cukup aman untuk mengirimkannya.
Mungkin, surat ini akan tiba selang beberapa hari, mungkin bulan, bahkan tahun
sebelum paket berisi selimut jingga itu datang kepadamu. Semoga kau sabar
menunggunya, Liana.
Baiklah, aku akan menceritakannya. Kau masih ingat, kau pernah
bercerita dalam suratmu kepadaku tentang Alina, temanmu yang mendapat kiriman
sepotong senja seukuran kartu pos dari kekasihnya, dan kau begitu iri
kepadanya. Lantas, kau memintaku untuk mengirimimu sepotong senja yang lain.
Tahukah kau, membaca suratmu itu, aku juga merasa iri kepada kekasih Alina. Ia
sungguh telah menghadiahkan hadiah paling indah kepada kekasihnya. Aku bertanya
kepada diriku sendiri, apa yang telah aku hadiahkan kepadamu.
Setelah membaca suratmu itu, setiap senja aku selalu melamun di
tepi pantai, menunggu senja terindah yang bisa aku kerat diam-diam untuk
kukirimkan kepadamu. Tetapi aku selalu gagal, orang-orang begitu ramai
mengagumi senja di tepi pantai bersama kekasih-kekasih mereka,
keluarga-keluarga mereka, teman-teman mereka. Dan itu semakin membuatku
tersiksa mengingatmu, Liana. Sendirian aku selalu menunggu saat-saat yang tepat
untuk mengerat senja diam-diam tanpa sepengetahuan mereka.
Lalu, pada suatu senja, entah senja keberapa sejak aku mulai
menunggu di tepi pantai itu, pantai terlihat sangat ramai dari biasanya. Aku
baru ingat kalau senja itu adalah senja terakhir di tahun itu. Orang-orang
mungkin ingin menitipkan kesusahan, penderitaan dan rasa sakit mereka di tahun
itu bersama tenggelamnya matahari terakhir. Mungkin mereka berharap, di
tahun-tahun mendatang, segala kesusahan, penderitaan dan rasa sakit itu tidak
akan kembali lagi. Melihat keramaian yang tidak biasanya itu, rasa sakitku
mengingat kesendirian tanpamu semakin terasa. Aku memutuskan untuk menyingkir
dari keramaian dan berjalan ke salah satu sisi pantai paling ujung yang sepi,
tidak ada siapapun di sana. Tahukah kau, Liana, apa yang aku temukan di ujung
pantai itu?
Di ujung pantai itu hanya ada aku dan kesunyian. Dalam tingkahan
suara camar dan debur ombak aku duduk di atas salah satu karang yang terasing
dari kumpulannya. Senja begitu indah jika dilihat dari sana, Liana. Pantulan
cahaya jingga yang berenang-renang di atas permukaan air membawakan kerinduanku
kepadamu. Lalu aku melihatnya, Liana. Aku melihat salah satu ujung selimut
jingga yang menutupi senja. Ujung selimut itu melambai-lambai dipermainkan
ombak. Seketika aku merasa sangat bahagia, Liana. Akhirnya aku telah menemukan
hadiah terindah yang akan kupersembahkan kepadamu, lebih indah dari hadiah yang
pernah diterima oleh Alina dari kekasihnya.
Dengan gerak yang sangat cepat aku tarik ujung selimut jingga itu.
Kau tahu apa yang terjadi setelah itu, Liana? Senja seketika menjadi hitam,
gelap. Matahati yang telah tenggelam lebih dari separuhnya menjadi putih pucat.
Bersamaan dengan itu aku mendengar dari kejauhan jeritan serentak orang-orang.
Sesaat kemudian aku mendengar suara keributan. Orang-orang panik. Anak-anak
kecil menangis. Para pemuda marah dan memaki-maki. Mungkin kemesraan mereka
dengan kekasih-kekasih mereka terganggu dengan hilangnya jingga dari senja yang
mereka tuntut untuk menjadi saksi cinta kasih mereka di penghujung tahun itu.
Segera aku lipat selimut jingga yang telah kucuri dari senja,
sebelum orang-orang menyadari bahwa selimut jingga dari senja telah aku curi.
Selimut jingga itu begitu tipis hingga dapat kulipat menjadi selebar buku
catatan, dan ketebalan lipatan itu tak lebih dari tebal kitab suci yang dulu
semasa kecil sering kita baca bersama di surau dan madrasah. Lalu aku selipkan
selimut jingga itu ke dalam jaketku dan aku berjalan menjauh dari pantai,
berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Namun rupanya, jaketku tak cukup tebal untuk menahan pancaran
cahaya jingga selimut itu. Cahaya jingga berpendar dari seluruh tubuhku, dan
orang-orang mulai menyadari akulah yang telah mencuri selimut jingga dari
senja. Mereka mengejarku beramai-ramai, Liana. Anak-anak, lelaki dan perempuan,
tua dan muda, semuanya berteriak di belakangku. Geram, kesal dan marah terbawa
bersama teriakan-teriakan mereka. Aku berlari sekencang-kencangnya. Kutelusuri
jalan-jalan kecil, gang, dan lorong-lorong untuk bersembunyi. Sengaja aku tidak
mengambil jalan utama, karena dengan mudah orang-orang bisa mengejarku dengan
motor-motor dan mobil-mobil mereka, dan aku pasti tertangkap.
Sia-sia saja aku berbelok-belok, menembus jalan dan lorong-lorong
kecil untuk menghindar dari kejaran mereka. Orang-orang dengan mudah menandai
keberadaanku dengan cahaya jingga yang berpendar dari sekujur tubuhku. Aku
sempat putus asa, Liana. Aku tergoda untuk menyesali perbuatanku mencuri
selimut jingga dari senja, dan ingin menyerahkan saja selimut jingga yang ada
di balik jaketku kepada mereka yang mengejarku, untuk kembali di hamparkan di
cakrawala. Namun, keinginanku yang begitu kuat untuk bisa memberimu hadiah
terindah, mengalahkan segala godaan itu. Aku terus berlari dan berlari, hanya
sesekali berhenti untuk menarik nafas dan memilih jalan mana yang selanjutnya
akan kulewati. Di saat aku berhenti itulah seketika keringat mengalir dari
seluruh pori-poriku.
Aku berlari membelok pada sebuah jalan kecil di sisi pemakaman
yang tak berpagar. Malam telah lama beranjak sejak kucuri selimut jingga dari
senja. Cahaya jingga yang berpendar dari balik jaketku remang menerangi barisan
nisan yang tegak dalam diam. Aku ngeri sebenarnya, membayangkan orang-orang
mati di pemakaman itu mendadak bangkit dan ikut mengejarku. Ah, tidak ada
alasan bagi mereka untuk mengejarku. Orang mati tidak akan pernah kehilangan
jingga dari senja. Mereka telah terbiasa dengan kegelapan. Apakah kau
sependapat denganku, Liana?
Kegelapan? Mendadak muncul gagasan dalam benakku. Aku tergoda
untuk menggali sebidang tanah di pemakaman itu dan menyembunyikan selimut
jingga di sana. Lalu aku akan lari entah kemana dan bersembunyi lama sampai
orang-orang bosan mengejarku. Aku akan menunggu sampai orang-orang telah
terbiasa kehilangan jingga dari senja. Setelah itu, kembali akan kugali
sebidang tanah itu dan membawa selimut jingga itu dengan aman tanpa takut ada
yang mengejarku, toh orang-orang sudah tidak akan tahu jika senja pernah
berwarna jingga. Seulas senyuman mengembang dari bibirku memikirkan hal itu.
Tapi, tunggu dulu, Liana. Siapa yang bisa menjamin bahwa selama
aku menunggu, pemakaman itu akan tetap menjadi pemakaman? Mungkin saja sebulan
atau setahun lagi pemakaman itu sudah berganti menjadi pusat perbelanjaan atau
perkantoran. Kau tahu. Liana, pembangunan di kota yang tengah kusinggahi ini
sedang pesat-pesatnya. Hutan-hutan ditebang untuk membuka perumahan dan
pabrik-pabrik. Taman-taman kota diratakan untuk membuat jalan-jalan layang dan
jalan tol. Tanah-tanah lapang disulap menjadi gedung-gedung bertingkat. Kau
tahu, Liana, anak-anak kecil di kota yang kusinggahi ini sudah tidak punya lagi
tempat bermain bola, layang-layang, gobak sodor dan permainan lainnya yang dulu
semasa kecil sering kita mainkan bersama kawan-kawan kita. Tempat bermain
mereka kini berpindah di dalam gedung-gedung dan mall-mall. Bahkan tidak
sedikit dari mereka yang hanya bermain di depan layar tivi, komputer dan
playstation.
Liana, dengan alasan itulah aku mengurungkan niatku menggali
lubang untuk menyembunyikan selimut jingga di dalam tanah. Biarlah selimut
jingga tetap di balik jaketku dalam pelarianku.
Aku berlari masuk ke hutan-hutan, sebisa mungkin jauh dari
manusia, sambil memikirkan bagaimana caranya untuk menyembunyikan cahaya jingga
yang kucuri dari senja agar tidak mengundang kecurigaan orang-orang. Pastinya,
di kota yang kusinggahi itu, telah tersebar kabar bahwa jingga telah dicuri
oleh seseorang. Besok, ciri-ciri dan reka wajahku pasti tercetak di
koran-koran, terpampang di dinding-dinding dan tiang listrik; dan tersiar di
berita-berita.
Aku yakin malam telah sangat larut saat aku menemukan sebuah gua
kecil di tengah hutan itu, lebarnya tak sampai serentangan kedua tanganku. Aku
memasukinya. Kusandarkan tubuhku yang lelah di dinding gua. Aku buka jaketku
dan kuletakkan selimut jingga yang terlipat di atas tanah. Dengan cahaya jingga
yang berpendar dari selimut itu, aku bisa melihat seisi gua. Dinding-dindingnya
lembab dan berlumut. Beberapa ekor tikus berlari menjauh dariku, sementara
serangga-serangga kecil beterbangan mengitari dan hinggap di selimut jingga
itu.
Kembali di benakku muncul sebuah gagasan. Kenapa tidak aku
tinggalkan saja selimut jingga itu di dalam gua, dan membiarkan mahluk-mahluk
di dalam gua yang telah lama hidup dalam kegelapan, akhirnya bisa menikmati
cahaya. Kutinggalkan selimut jingga itu di kedalaman gua, sementara aku
perlahan melangkah keluar. Sesampainya aku di mulut gua, tanpa sengaja kepalaku
mendongak ke langit. Kau tahu apa yang kulihat di sana, Liana? Ya, hadiah lain
yang kukirimkan dalam paketku bersama selimut jingga itu.
Di langit itu aku melihat kegelapan. Kegelapan yang sempurna.
Hitam, pekat. Bintang-bintang tak ada. Bulan pun tak ada. Senyum lebar
mengembang di bibirku. Senyum kemenangan. Senyum kebahagiaan. Betapa bahagianya
aku jika memikirkan saat-saat itu, saat aku akhirnya menemukan jalan agar bisa
mengirimkan selimut jingga itu kepadamu. Kau pasti tidak akan pernah mengira,
jika kegelapanlah yang akhirnya menyelamatkanku, menyelamatkan selimut jingga
itu.
Dengan pisau lipatku, kukerat langit malam selebar kurang lebih
satu meter. Aku kembali melangkah ke dalam gua untuk mengambil selimut jingga
itu. Selimut jingga yang telah kucuri dari senja itu kubungkus dengan keratan
langit malam itu. Ajaib. Cahaya jingga senja lenyap di dalam balutannya. Aku
lega. Dengan bungkus keratan langit malam itu juga akhirnya aku kirimkan
selimut jingga yang kucuri dari senja kepadamu, Liana. Jika suatu saat kau
menerima kiriman paket sebesar kotak sepatu, jangan kaget kalau di dalamnya ada
hadiah terindah yang bisa kupersembahkan kepadamu, Liana. Ya, hadiah itu adalah
selimut jingga yang telah kucuri dari senja yang kubungkus dalam sekerat langit
malam.
Pantai
Dalam Kamarku
Entah bagaimana menceritakannya. Meski terdengar aneh, tapi
benar-benar ada pantai dalam kamarku. Benar, pantai yang memiliki pasir,
karang, ombak, pohon-pohon kelapa dan sekelompok burung camar yang datang dari
arah cakrawala; ditambah matahari yang hanya dapat terlihat di kala terbitnya
saja. Bukan sekedar gambar pantai penghias dinding.
Pagi itu, aku terbangun dengan tubuh telah basah kuyup. Semula aku
pikir ini pasti ulah ibu atau Cholis, adikku. Walau telah terbiasa dengan cara
khas mereka dalam membangunkan orang yang sulit terjaga, aku tetap saja merutuk
habis-habisan. Dengan mata masih terpejam tanganku berusaha meraih jam weker
yang biasanya terletak di samping kiri ranjang. “Boleh mereka mengguyurku, asal
di waktu yang tepat. Kalau belum terlambat benar, dan mereka sudah main siram,
awas saja!” Ujarku geram masih dalam keadaan terpejam.
Tapi kemudian aku malah tak menemukan jam weker sialan itu. Tidak
juga suara omelan ibu atau tawa Cholis yang bisa menjelaskan keadaan ini
padaku. Kupaksakan untuk membuka mata. Sekonyong-konyong wajahku langsung
menghadap langit telanjang tanpa peneduh. Aku spontan bangkit dari ranjangku
seraya mengumpat, “sialan! Tempat apa ini?”
Tak disangka, kini aku sedang berada di sebuah pantai. Pantai yang
lengkap dengan pasir, karang, ombak, pohon-pohon kelapa, dan sekelompok burung
camar yang datang dari arah cakrawala; ditambah matahari yang hanya dapat
terlihat di kala terbitnya saja. Tapi jelas ini bukan mimpi, karena aku bisa
merasakan riak-riak air memecah lewat ujung-ujung jari kaki.
Pasti ada penjelasan logis atas keganjilan ini. Mungkin saja
semalam, setelah berpesta alkohol bersama teman-teman, aku singgah sebentar di
pantai ini. Meracau sendiri hingga lupa waktu. Sampai kemudian tertidur pulas,
dan akhirnya mendapati diri sedang menggerutu keesokan harinya.
Tapi setelah aku perhatikan dengan seksama, pantai tersebut
bukanlah seperti pantai yang ada di kotaku, bahkan di kota mana pun di dunia
ini. Pantai ini terlalu indah, selaksa belum pernah terjamah. Anehnya, aku
masih bisa melihat dinding-dinding kamarku, juga lemari, televisi, ranjang,
karpet, jendela dan daun pintu yang menempel pada seonggok batu karang raksasa.
Pintu tersebut dapat menghubungkanku dengan koridor lantai dua, tempat di mana
seharusnya kamarku berada. Mengertilah aku, bahwa sebenarnya aku masih dalam
kamarku sendiri. Hanya saja kamar ini bertambah luas beberapa puluh kali lipat
dari ukurannya semula.
Sontak aku menjerit. Jeritanku menyentakkan anggota keluarga lain
yang telah siap untuk sarapan. Kuceritakan apa yang terjadi dalam kamarku pada
mereka. Namun tak ada yang percaya. Ibu hanya tertawa, sedangkan bapak acuh
saja. Dina, kakakku yang pagi itu agak terlambat bergabung di meja makan, malah
menyarankan kepada kedua orangtuaku agar membawaku berkonsultasi ke dokter
Abdul Majid, psikiater tersohor di kota ini.
“Aku tidak gila,” sergahku yang lalu di balasnya dengan tawa
cekikikan menjengkelkan.
Ia malah terus-terusan menggodaku dengan olok-olokan seperti :
“Ghaza gila” atau
“Telepon dokter Abdul Majid, yah!”
“Kalau tidak percaya, lihat saja sendiri” balasku sengit.
“Ah, ogah, nanti jadi ikutan gila kayak kamu. Ghaza gila, we...”
“Errghhh....”
“Kak Ghaza, aku percaya padamu,” Celetuk Cholis tepat sebelum aku
melempar garpu ke muka saudariku yang menyebalkan itu.
“Sudah, kamu mandi sana!” tukas ibu. “Entar terlambat lagi. Ibu,
ayah, dan kakakmu berangkat dulu. Mungkin malam ibu baru pulang. Makanan sudah
ada di kulkas tinggal dipanasi saja.”
“Dasar gila,” goda dini sambil memeletkan lidah. Aku hanya bisa
mengepalkan tinju ke arahnya.
Aku tertegun melihat sikap keluargaku yang tak peduli. Hanya
Cholis yang sungguh percaya dengan ceritaku, “kak, nanti siang cepat pulang ya.
Aku ingin sekali melihat pantai yang kau ceritakan,” ujarnya sebelum berbalik
menuju gerbang SD Tunas Muda. Sekolah kami searah, membuatku harus meboncengnya
tiap pagi.
Nyatanya, selain Cholis, tidak ada lagi yang sudi percaya pada
omonganku. Tidak juga teman-teman segengku. “Ah, kawan, tampaknya akhir-akhir
ini, alkohol mulai menggerogoti otakmu. Sebaiknya kau tak usah ikut pesta malam
ini. Istirahat saja di rumah,” saran Sigit, sahabatku.
“Bagaimana bisa aku istirahat? Suara ombak yang gaduh itu tak bisa
membuatku tenang,” kilahku.
“Wah, kegilaan yang tak bisa terselamatkan lagi,” seloroh kawanku lainnya
yang sering dipanggil Prof. Kontan kata-katanya langsung disambut koor
kawan-kawan lain menertawaiku. Huh, si Prof itu lama-lama tampak sama
menyebalkannya dengan kakakku. Jika bukan sahabat dari kecil, mungkin sudah aku
kemplang kepalanya yang gundul itu.
Cholis benar-benar menungguku sepulang sekolah. “Kak, ayo
perlihatkan pantaimu padaku,” Katanya dengan nada riang.
Aku bilang, “Sabar, sabar... aku cari kuncinya dulu. Nah, ini dia!
Masuk di hitungan ketiga ya. Satu... dua...”
Cholis tampaknya sudah tidak sabar. Segera ia mendorong pintu
kamar sebelum hitunganku berakhir. Aku sedikit geli melihat mulutnya yang
diapit dua belah pipi membuntal itu ternganga. Pantai dalam kamarku ini masih
seperti tadi pagi. Hanya saja matahari mulai sedikit condong ke arah barat.
Rupanya ia benar-benar mengikuti siklus yang terjadi di alam nyata.
“Kak! Ayo kita berenang,” ajak Cholis yang tahu-tahu telah
menceburkan dirinya ke air laut yang biru menggoda.
“Ayo!”
Kami berdua beradu cepat sampai ke tepian batu karang yang agak
dangkal, dan memutuskan untuk bermain kejar-kejaran di sekitar situ. Ah, andai
ibu dan ayah ada di sini, juga Dini, sejahat apa pun ia padaku.
Tiba-tiba Cholis menghilang, “Lis, Cholis! Di mana kau?” Panik aku
mencarinya.
“Cholis,” aku berenang menyusuri tepian karang yang dangkal itu.
“Kau di mana?” aku pindah ke daerah yang lebih dalam. Sedikit khawatir, sebab
aku masih belum mahir berenang.
“Burrrr....,” tiba-tiba Cholis muncul tepat di depan hidungku dan
menyemburkan air laut dari mulutnya. Tanpa rasa bersalah bocah tengil itu
lantas terbahak sembari berenang menjauh.
“Brengsek! Hei gembul, pengen di hajar ya?” aku hampir lupa kalau
Cholis, dengan badannya yang tambun itu, pernah menggondol medali perak dalam
sebuah kejuaraan polo air antar sekolah. Terengah-engah aku berusaha menyamai
kecepatannya. Namun lagi-lagi, aku sial. Anak itu menghilang tanpa aku tahu dia
di mana.
Tak berapa lama aku merasakan sesuatu menarik-narik kakiku. Ah,
Cholis, berhentilah menggodaku, batinku. Tapi rasanya mustahil itu adalah
tangan seorang anak kecil. Dia lebih menyerupai temali raksasa yang licin
melilit-lilit.
Tarikan yang kurasakan semakin kuat. Aku mulai meronta. Tapi
tarikan itu malah makin bertambah hebat. Nafasku tersenggal. Beberapa kali aku
menelan air asin. Beberapa kali pula kepalaku terbenam. Dan dalam sekelebat aku
seperti melihat sesuatu. Bentuknya seperti tubuh anak kecil gemuk yang dibawa
lari gumpalan-gumpalan hijau mirip monster ganggang.
Aku sempat melolong minta tolong. Tapi terlambat. Semua mendadak
gelap entah berapa lama. Sampai kemudian, berangsur-angsur, kesadaranku pulih.
Sekonyong-konyong, aku langsung merasakan sakit pada bagian tengkuk sampai
punggung. Serasa aku tengah menanggung sesuatu yang teramat keras dan berat.
Sejurus kemudian, aku menyadari bahwa aku tengah berada dalam
sebuah ruangan sempit. Begitu sempitnya hingga tubuhku harus tertekuk sampai
hidung hampir menyentuh lutut. Dalam ruangan ini aku hanya dapat meraba karena
keadaan di sekitarku gelap pekat. Tak ada sinar seberkas pun.
Perlahan-lahan kugerakkan tubuhku. Tapi ruangan keparat ini
benar-benar sangat terbatas. Aku teringat akan Cholis. Beberapa kali aku
panggil namanya, berharap dia ada di sekitar sini. Nihil, aku rupanya sedang
terjebak sendiri.
Dalam gelap, aku mulai meraba lagi. Sepertinya tanganku bengkak
dan kulitku jadi sedikit bersisik menjijikkan. Sementara, tulang belulangku
seakan rapuh dan lunglai. Namun itu semua tak menghentikanku, dengan bibirku
yang tambah menebal, kuketuk dinding ruangan yang ternyata agak lembut walaupun
sedikit lembab itu berkali-kali. Usahaku belum membuahkan hasil. Kucoba
mengetuk-ngetuk dinding berbentuk kubah yang letaknya tepat di atas kepalaku.
Ah, yang ini agak sedikit lunak.
Dengan bersusah payah dinding itu pun akhirnya retak dan membentuk
satu rekahan. Tapi, astaga, beberapa butiran kecil mendadak keluar dari rekahan
itu.
“Pasir,” desisku.
Secara refleks, mataku terkatup menghindari semburan pasir yang
menekan dari atas kepala. Oh, rupanya dari tadi aku sedang meringkuk di dalam
sesuatu yang terpendam dalam pasir. Sejenak aku berpikir, jangan-jangan pasir
itu adalah pasir yang ada di pantai dalam kamarku.
Aku menjadi bersemangat. Dengan daya yang masih tersisa, kuterobos
hujan pasir itu. “Ayo, ayo!” seruku pada diri sendiri. Sejenak, aku membuka
mata sedikit. Ada cahaya menerobos dari celah di atas sana. Aku makin
bersemangat.
Ternyata semua usahaku tidak sia-sia. Sampai juga aku ke tempat di
mana cahaya tadi berasal. Dan ternyata, benar dugaanku, aku kembali ke pantai.
Pantai yang ada dalam kamarku.
Namun sejurus kemudian aku sadar. Tempat ini tampaknya jauh lebih
besar. Pasir, karang, ombak, pohon-pohon kelapa dan sekelompok burung camar
yang datang dari arah cakrawala, semua tampak bertambah ukurannya dibanding
sebelumnya.
“Hei, apa yang kau lakukan?
Ayo lari!” seru sebuah suara di belakangku. Aku menoleh. Tapi aku tak melihat
siapa-siapa, hanya segerombolan tukik yang baru keluar
dari sebuah lubang dan kelihatannya mereka tampak ketakutan.
“Siapa tadi yang bicara ya?” gumamku.
“Jangan diam saja. Ayo selamatkan dirimu.”
Astaga, yang benar saja.
Tadi yang bicara itu seekor tukik rupanya. Aku pun
menuruti seruannya. Ikut berlari menyelamatkan diri entah dari apa. Tapi
tubuhku sama sekali tak bisa berdiri. Aku hanya bisa merangkak seperti tukik-tukik itu.
Aneh, aku seperti merasakan sebuah dorongan yang kuat untuk merangkak ke arah
matahari yang baru terbit.
“Permisi, aku mau tanya.
Walau ini agak aneh bagiku. Tapi, maaf, kita sedang lari dari apa? Dan
ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa bicara denganku? Bukankah, kita dua makhluk
yang berbeda?” tanyaku pada tukik itu masih dengan
merangkak setengah berlari.
“Dalam keadaan seperti ini kau masih bicara yang aneh-aneh. Tentu
saja kita sedang lari dari camar-camar yang ada di atas sana. Kau pasti tak
ingin tubuhmu yang masih muda itu jadi sarapan mereka”
“Omong kosong, bagaimana bisa mereka memakanku. Aku manusia,
sedangkan mereka hanya burung camar.”
“Ah, rupanya aku tengah
bicara dengan seekor tukik yang sedang
bermimpi jadi manusia,” tukikitu seolah tak ingin
mempedulikanku lagi. “Sudah, selamatkan dirimu sendiri saja”
Binatang berkerapas itu menjauh. Langkahnya dipercepat. Tapi
malang baginya, belum sampai beberapa senti, seekor camar tiba-tiba menyambar
lalu mematuk kepalanya. Adegan ini memberi pengaruh rasa takut yang hebat
bagiku. Kusegerakan langkahku menuju lautan. Tapi kerapas berat yang dari tadi
kugendong di punggungku ini benar-benar merepotkan dan memperlambat langkahku.
“Tuhan, benarkah aku kini
telah berubah menjadi seekor tukik?” dalam kondisi
begini barulah aku menyebut namaNya lagi. Aku terus merangkak setengah berlari
sembari mengingat-ngingat kembali beberapa zikir yang dulu sering diajarkan
guru mengajiku. Mulutku komat-kamit sambil terus berharap semoga ini hanyalah mimpi.
Tiba-tiba timbul rasa penyesalanku kala mengingat kenyataan bahwa aku telah
kehilangan Cholis, “semoga dia selamat.”
Akhirnya aku mampu mencapai
garis pantai. Sementara di langit sana, tampak beberapa ekor camar yang
tampangnya menjadi terlihat ganas bagiku. Aku coba menoleh, namun pemandangan
yang terlihat membuatku hampir muntah. Beberapa ekor camar mencabik-cabik
tubuh tukik-tukik yang lemah dengan paruh tajam
mereka.
Namun, tak ada yang lebih mengerikan dari apa yang kulihat di
permukaan air. Wajah terkutuk itu. Benar, itu adalah wajahku. Wajah yang penuh
kerut dan sisik hijau tua. Dengan mata yang tampak berair dan mulut yang
sedikit bertambah jongang. Aku benar-benar telah menjelma menjadi seekor
binatang melata.
Setelah itu, aku merasa tubuhku tiba-tiba melayang. Tinggi,
bertambah tinggi. Laut dan daratan di bawahku tampak semakin mengecil. Sebentuk
cakar yang kekar mencengkeram punggungku. Aku pasrah, kubiarkan camar ini
membawaku ke mana dia suka.
Dalam kepasrahanku,
tiba-tiba kulihat sesuatu terambung-ambung di atas laut. Seperti seekor tukik yang
sedang tengadah. Memandangku sembari memanggil-manggil. Insting hewaniku
tersentak. Tukik itu seperti
seseorang yang sangat kukenal. Seseorang yang dalam tubuhnya, mengalir darah
sama dengan darah dalam tubuhku.***
Makassar, Mei 07
Tidak ada komentar:
Posting Komentar