Daftar isi
Halaman judul.........................................................................................................
i
Kata
pengantar.........................................................................................................ii
Daftar isi..................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
latar belakang
masalah..........................................................................................
B.
perumusan masalah...............................................................................................
C.
tujuan
penulisan....................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A.
pengertian autoimunitas.......................................................................................
B.
penyebab penyakit
autoimunitas..........................................................................
C.
mekanisme terjadinya
penyakit autoimunitas......................................................
D.
faktor resiko penyakit
autoimunitas.....................................................................
E.
gejala dan jenis
penyakit yang terkait dengan autoimunitas................................
F.
mendiagnosa penyakit
autoimunitas....................................................................
G.
pencegahan dan
pengobatan penyakit autoimunitas............................................
BAB III PENUTUP
Kesimpulan ................................................................................................................
Saran...........................................................................................................................
Daftar pustaka.............................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang masalah
Penyakit AutoImune adalah
penyakit yang cukup berbahaya ,dimana
sistem kekebalan yang terbentuk salah mengidentifikasi benda asing, dimana sel,
jaringan atau organ tubuh manusia justru dianggap sebagai benda asing sehingga
dirusak oleh antibodi. Jadi adanya penyakit autoimmune tidak memberikan dampak
peningkatan ketahanan tubuh dalam melawan suatu penyakit, tetapi justru terjadi
kerusakan tubuh akibat kekebalan yang terbentuk.
Jika tubuh dihadapkan
sesuatu yang asing maka tubuh memerlukan ketahanan berupa respon immun untuk
melawan substansi tersebut dalam upaya melindungi dirinya sendiri dari kondisi
yang potensial menyebabkan penyakit. Untuk melakukana hal tersebut secara efektif maka diperlukan
kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri sehingga dapat memberikan respon pada
kondisi asing atau bukan dirinya sendiri.
B. Perumusan masalah
1.
Apa
yang dimaksud dengan Autoimun?
2.
Apa
penyebab penyakit Autoimun?
3.
Bagimana
mekanisme terjadinya penyakit autoimun?
4.
Apa
saja faktor resiko yang diakibatkan oleh autoimun?
5.
Apa
saja jenis-jenis penyakit autoimun beserta gejalanya?
6.
Bagaimana
cara mendiagnosa penyakit autoimun?
7.
Bagaimana
cara pencegahan maupun pengobatan terhadap penyakit autoimun?
C.
Tujuan penulisan
1.
Mengetahui apa yang
dimaksud dengan Autoimun
2.
Mengetahui penyebab dan
mekanisme terjadinya penyakit autoimun
3.
Mengetahui apa saja faktor
resiko penyakit autoimun
4.
Mengetahui jenis
penyakit autoimun melalui gejala-gejala yang ada serta diagnosa autoimun
5.
Mengetahui bagaimana
cara mengobati penyakit autoimun
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Autoimunitas
Autoimunitas adalah kegagalan suatu organisme untuk mengenali bagian
dari dirinya sendiri sebagai bagian dari dirinya, yang
membuat melawan sel dan jaringan miliknya sendiri. Beberapa
penyakit yang dihasilkan dari kelainan respon kekebalan ini dinamakan penyakit
autoimun .Kesalahan
yang menyebabkan sistem kekebalan melawan suatu individu yang seharusnya
dilindunginya bukanlah hal yang baru
Paul ehrlich pada awal abad ke 20 mengajukan
konsep horror autotoxicus di
mana jaringan suatu organisme dimakan oleh sistem kekebalannya sendiri. Semua
respon autoimun dulunya dipercaya sebagai hal yang abnormal dan dikaitkan
dengan suatu kelainan. Namun saat ini diketahui bahwa respon autoimun adalah
bagian terpisah dari sistem kekebalan vertebrata umumnya untuk mencegah
terjadinya penyakit yang disebabkan oleh toleransi imunologikal terhadap
antigen milik sendiri.
Autoimunitas
adalah respon imun terhadap antigen tubuh sendiri yang disebabkan oleh
menkanisme normal yang gagal berperan untuk mempertahankan self-tolerance sel
B, sel T atau keduanya. Respon imun terlalu aktif menyebabkan disfungsi imun,
menyerang bagian dari tubuh tersebut dan merupakan kegagalan fungsi
sistem kekebalan tubuh yang membuat badan menyerang jaringannya sendiri. Sistem
imunitas menjaga tubuh melawan pada apa yang terlihatnya
sebagai bahan asing atau berbahaya. Bahan seperti itu termasuk mikro-jasad,
parasit
(seperti cacing), sel kanker, dan malah pencangkokkan organ dan jaringan.
Setiap
penyakit yang dihasilkan dari seperti respon imun yang menyimpang, kerusakan
jaringan atau gangguan fungsi fisiologis yang ditimbulkan oleh respon autoimun
disebut penyakit autoimun.
Penyakit
AutoImune adalah penyakit dimana sistem kekebalan yang terbentuk salah
mengidentifikasi benda asing, dimana sel, jaringan atau organ tubuh manusia
justru dianggap sebagai benda asing sehingga dirusak oleh antibodi.
Jadi adanya penyakit autoimmune tidak
memberikan dampak peningkatan ketahanan tubuh dalam melawan suatu penyakit,
tetapi justru terjadi kerusakan tubuh akibat kekebalan yang terbentuk.
Bahan
yang bisa merangsang respon imunitas disebut antigen. Antigen adalah molekul yang
mungkin terdapat dalam sel atau di atas permukaan sel (seperti bakteri, virus,
atau sel kanker). Beberapa antigen, seperti molekul serbuk sari atau makanan,
ada di mereka sendiri.
Sel
sekalipun pada orang yang memiliki jaringan sendiri bisa mempunyai antigen.
Tetapi, biasanya,sistem imunitas bereaksi hanya terhadap antigen dari bahan
asing atau berbahaya, tidak terhadap antigen dari orang
yang memiliki jaringan sendirii. Tetapi, sistem imunitas kadang-kadang rusak,
menterjemahkan jaringan tubuh sendiri sebagai antibodi asing dan menghasilkan
(disebut autoantibodi) atau sel imunitas menargetkan dan menyerang jaringan
tubuh sendiri.
Respon
ini disebut reaksi autoimun. Hal tersebut menghasilkan radang dan kerusakan
jaringan. Efek seperti itu mungkin merupakan gangguan autoimun, tetapi beberapa
orang menghasilkan
jumlah yang begitu kecil autoantibodi sehingga gangguan autoimun tidak terjadi.
B.
Penyebab penyakit
autoimunitas
Reaksi autoimun
dapat dicetuskan oleh beberapa hal :
·
Senyawa yang ada
di badan yang normalnya dibatasi di area tertentu (dan demikian disembunyikan
dari sistem kekebalan tubuh) dilepaskan ke dalam aliran darah.Misalnya, pukulan
ke mata bisa membuat cairan di bola mata dilepaskan ke dalam aliran
darah.Cairan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mengenali mata sebagai
benda asing dan menyerangnya.
·
Senyawa normal di tubuh berubah, misalnya, oleh virus, obat,
sinar matahari, atau radiasi. Bahan senyawa yang berubah mungkin kelihatannya
asing bagi sistem kekebalan tubuh. Misalnya, virus bisa menulari dan demikian
mengubah sel di badan. Sel yang ditulari oleh virus merangsang sistem kekebalan
tubuh untuk menyerangnya.
·
senyawa asing yang
menyerupai senyawa badan alami mungkin memasuki badan. Sistem kekebalan tubuh
dengan kurang hati-hati dapat menjadikan senyawa badan mirip seperti bahan
asing sebagai sasaran. Misalnya, bakteri penyebab sakit kerongkongan mempunyai
beberapa antigen yang mirip dengan sel jantung manusia. Jarang terjadi, sistem
kekebalan tubuh dapat menyerang jantung orang sesudah sakit kerongkongan
(reaksi ini bagian dari deman rumatik).
·
Sel yang mengontrol produksi antibodi misalnya, limfosit
B (salah satu sel darah putih) mungkin rusak dan menghasilkan antibodi abnormal
yang menyerang beberapa sel badan.
Keturunan mungkin terlibat pada beberapa kekacauan autoimun. Kerentanan kekacauan, daripada kekacauan itu sendiri, mungkin diwarisi. Pada orang yang rentan, satu pemicu, seperti infeks virus atau kerusakan jaringan, dapat membuat kekacauan berkembang. Faktor Hormonal juga mungkin dilibatkan, karena banyak kekacauan autoimun lebih sering terjadi pada wanita.
C.
Mekanisme terjadinya penyakit autoimunitas
sistem kekebalan tubuh
bekerja dalam dua langkah, yaitu:
- Membedakan
sel-sel asing dengan sel-sel tubuh sendiri, kemudian
mengambil tindakan terhadap sel-sel asing.
- Jika
langkah pertama tak sukses, diambil langkah kedua, terdiri dari 2
kemungkinan: Pertama, sistem kekebalan tubuh diredam dan tubuh
tak lagi mengenali sel-sel asing, seperti pada kasus HIV-AIDS, di
mana sistem kekebalan tubuh melemah. Kedua, sistem kekebalan
tidak diredam sehingga menyerang sel-sel tubuh sendiri maupun
sel-sel asing tanpa kecuali. Ini terjadi pada kasus penyakit
autoimun. Saat itu, sistem kekebalan tubuh Anda menjadi
benar-benar berada di luar kendali.
D.
faktor resiko penyakit
autoimunitas
Yang menjadi faktor
risiko penyakit autoimun meliputi:
- Faktor
genetik, dalam faktor ini penyakit autoimun dapat terjadi pada seseorang
karena keturunan. Namun, faktor keturunan ini dapat terjadi apabila faktor
lingkungan juga mendukung atau mempengaruhi.
- Faktor
lingkungan, seperti gaya hidup yang tidak sehat juga termasuk didalamnya.
- Jenis
kelamin, penyakit autoimun lebih banyak menyerang jenis kelamin perempuan
dibandingkan laki-laki.
- Hormon
seks, Gangguan autoimun sering menyerang saat usia produktif karena adanya
hormon seks seperti estrogen dan progesteron.
- Infeksi,
Adanya infeksi tertentu dapat memperburuk beberapa penyakit autoimun.
- Sifat
autoantigen, yaitu enzim dan protein sering sebagai antigen sasaran dan
mungkin bereaksi silang dengan antigen mikroba.
- Obat-obatan,
beberapa obat tertentu dapat menginduksi penyakit autoimun.
E.
Gejala dan jenis
penyakit yang terkait dengan autoimunitas
Penyakit
autoimun bisa berdampak pada banyak bagian tubuh. Ada lebih dari 100 jenis
penyakit autoimun, mulai dari yang ringan sampai berat. Karena sangat beragam,
maka gejalanya pun bervariasi. Namun, beberapa penyakit autoimun memiliki
gejala-gejala yang sama. Itu sebabnya autoimun sering disebut sebagai penyakit
dengan seribu wajah
.
- Nyeri
di sekujur tubuh. Nyeri yang membuat badan seperti ditusuk-tusuk.
- Nyeri
sendi. Bagian sendi yang paling sering diserang adalah sendi lutut, sendi
di pergelangan tangan, punggung tangan hingga buku-buku jari. Nyeri ini
terjadi di kedua sisi kiri dan kanan. Nyeri ini juga sering diiringi
pembengkakan dan/atau kekakuan, sehingga membuat Anda sangat kesakitan dan
sulit bergerak.
- Fatigue,
yakni rasa lelah berlebihan dan berkepanjangan, seperti Anda habis berlari
jauh, membuat energi tubuh seperti terkuras habis. Bahkan untuk mengangkat
badan dari tempat tidur saja terasa berat.
- Timbul
demam ringan. Bila dipegang oleh orang lain, badan akan terasa agak
hangat, namun ketika diperiksa dengan termometer, suhunya masih normal
(pada batas atas), sekitar 37,4 - 37,5 derajat Celsius.
- Rambut
mengalami kerontokan parah.
- Sering
terkena sariawan.
- Brain
fog. Disebut demikian karena otak sewaktu-waktu seperti tertutup kabut,
sehingga untuk sesaat Anda kehilangan memori, fokus, dan konsentrasi,
entah sedang menulis maupun saat berbicara.
Penyakit – penyakit autoimun diantaranya ialah :
1.
Diabetes Tipe 1.
Diabetes Tipe 1 dapat terjadi akibat sel-sel
penghasil insulin di rusak atau diserang oleh sistem imun itu sendiri. Hal ini
mengakibatkan tubuh tidak mampu untuk menghasilkan insulin dan menyebabkan
tubuh kelebihan kadar gula dalam darah. Jika kadar gula berlebih maka dapat
merusak organ ginjal, saraf, gusi, mata dan juga gigi. Dalam kondisi yang sudah
parah diabetes tipe 1 ini dapat menyebabkan serangan jantung.
Untuk gejala diabetes tipe 1 adalah gangguan
penglihatan, kulit kering dan gatal, terjadi penurunan berat badan, apabila
terjadi lukan maka luka akan sulit untuk disembuhkan, sering buang air kecil,
sering merasa haus, mudah merasa lapar dan tidak bertenaga, dan masalah
kesemutan.
2. Celiac disease.
Selanjutnya jenis penyakit autoimun yang perlu
kita ketahui adalah celiac disease. Celiac disease menyerang tubuh dengan
ketidaksanggupan tubuh dalam mentolerir gluten, yaitu suatu zat yang ada di
dalam gandum. Sehingga jika sampai zat glutein masuk dalam tubuh sistem
kekebalan akan merasa asing dengan zat tersebut dan tubuh meresponnya dengan
cara melakukan kerusakan lapisan usus kecil.
Adapun gejala dari celiac disease adalah
masalah diare atau sembelit, berat badan mengalami kenaikan dan penurunan,
perut terasa kembung dan nyeri, kelelahan, infertilitas atau keguguran dan
munculnya ruam dikulit yang terasa gatal.
3.
Alopecia areata.
Penyakit autoimun alopecia areata ini bekerja
menyerang bagian folikel rambut atau tempat tumbuhnya rambut. Meskipun jarang
di dapati adanya gangguan kesehatan yang disebabkan oleh alopecia areata ini
namun akan berpengaruh pada masalah estetika.
Gejala dari alopecia areata adalah terjadinya
kerontokan di bagian kulit kepala, dan bagian lainnya yang berpotensi memiliki
rambut.
4.
Autoimmune hepatitis.
Salah satu jenis
penyakit autoimun adalah autoimmune yaitu adanya sistem kekebalan
tubuh yang menyerang atau menghancurkan sel-sel organ hati. Akibatnya
terjadilah luka parut serta pengerasan hati yang dapat mengembangkan risiko
penyakit gagal hati.
Gejalanya berbentuk rasa lelah yang sangat
sering terjadi, warna kulit dan juga mata menguning, munculnya gatal-gatal pada
kulit, nyeri sendi, sakit perut dan pembesaran organ hati.
5.
Graves’ disease.
Autoimun ini akan membuat masalah kelenjar
tirod yang bekerja terlalu aktif dan akhirnya membuat produksi hormon tiroid
yag berlebihan.
Gejalanya berupa, emosional, kesulitan tidur atau insomnia,
penurunan berat badan, tangan sering gemetar, mata terlihat menonjol, siklus haid
yang singkat, mudak berkeringat, sangat sensitif terhadap panas, otot melemah,
rambut rontok atau mudah patah dan terkadang bisa saja tidak menimbulkan gejala
apapun.
6.
Hashimoto’s disease.
Autoimun ini merupakan kebalikan dari graves’s
disease, yang akan membuat kelenjar tiroid kurang mampu menghasilkan hormon tiroid.
Adapun gejala dari hashimoto’s disease adalah
rasa lelah atau fatigue, meningkatnya berat badan, masalah nyeri sendi atau
kaku, nyeri otot, wajah mengalami pembengkakan, susah buang air besar, sensitif
terhadap dingin, serta kelemahan otot.
7.
Hemolytic anemia.
Hemolytic anemia akan membuat sistem
kekebalan tubuh justru menimbulkan kerusakan sel-sel darah merah, dan tubuh
tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan sel-sel darah yang baru dengan waktu
yang cepat. Dampaknya akan membuat pasokan oksigen terganggu sehingga tubuh
tidak dapat memperoleh jumlah oksigen dan akan membuat kinerja organ hati lebih
keras lagi untuk dapat memindahkan darah yang dipenuhi oksigen ke seluruh
tubuh.
Gejalanya adalah sakit
kepala atau pusing, sesak napas, cepat lelah, tangan dan kaki sering
kedinginan, wajah pucat, kulit dan mata menguning dan bisa mengakibatkan
8.
Inflammatory Bowel Disease (IBD).
Dalam Inflammatory bowel disease (IBD), sistem
kekebalan tubuh akan mengakibatkan masalah inflamasi kronis di dalam saluran
pencernaan.
Untuk gejala yang dapat ditimbulkan antara
lain, terjadinya demam, berat badan menurun, kelelahan, ulkus mulut, merasa
sakit ketika buang air besar, diare yang terkadang disertai darah, pendarahan
rektum, dan perut terasa nyeri.
9.
Multiple sclerosis (MS).
Jenis penyakit autoimun yang membuat sistem
kekebalan tubuh akhirnya menyerang lapisan yang melindungi daerah sekitar
saraf. Akibatnya akan mempengaruhi organ otak dan juga saraf tulang belakang.
Gejalanya antara lain merasa kesemutan atau
mati rasa pada tangan dan juga kaki, otot mengalami kelemahan sehingga merasa
kesulitan untuk menjaga keseimbangan tubuh, kelumpuhan, tremor, sulit berbicara
dan berjalan.
10.
Inflammatory Myopathies.
Inflammatory myopathies merupakan penyebab
masalah inflamasi pada otot atau kelemahan otot.
Gejalanya adalah melemahnya otot progresif
yang terjadi pada bagian otot terdekat dengan batang tubuh. Penderita juga bisa
mengalami kesusahan untuk bernapas atau menelan, mudah jatuh, dan sering merasa
kelelahan setelah berjalan atau berdiri.
11.
Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP).
Jenis autoimun yang
menyebabkan sistem kekebalan tubuh justru menghancurkan yang seharusnya
dibutuhkan oleh tubuh untuk membekukan darah. Gejalanya seperti
terjadinya mimisan atau pendarahan di mulut, mudah memar, periode haid yang
lama, dan munculnya bintik kecil berwarna ungu atu merah pada kulit yang
terlihat seperti ruam.
12.
Guillain-Barre
syndrome.
Autoimun ini akan membuat
sistem kekebalan tubuh menyerang sistem saraf yang
menghubungkan organ otak serta saraf tulang belakang dengan seluruh organ
tubuh. Akibat adanya kerusakan saraf ini akan mengakibatkan terganggunya
pengiriman sinyal dalam tubuh yang akhirnya membuat otot-otot mengalami
hambatan dalam melakukan respon ke otak.
Gejalanya antara lain,
untuk gejala yang parah akan mengakibatkan masalah kelumpuhan, kesemutan yang
menyerang kaki dan bisa meluas ke tubuh bagian atas.
13.
Lupus
Penyakit lupus juga dikenal juga dengan istilah
systemic lupus erythematosus dan penyakit autoimun satu ini bisa membuat
antibodi berkembang dengan pesat yang malah dapat merugikan tubuh manusia.
Menyerang beberapa bagian tubuh, penyakit ini cukup berbahaya dan serius karena
untuk mengobatinya pun diketahui fungsi imun harus diturunkan.
Dengan gejala
demam, berat badan turun, sariawan, sensitif terhadap matahari, ruam berbentuk
kupu-kupu diarea hidung dan pipi, nyeri sendi dan otot, nyeri pada dada,dll.
14.
Sjogren
syndrom
Dimana
sistem imun menyerang kelenjar yang menghasilkan kelembaban alami pada tubuh seperti
air mata dan air liur.
Dengan
gejala mata gatal dan kering, mulut kering yang dapat menimbulkan luka, susah
menelah, tidak mampu merasakan makanan,dll.
15.
Scleroderma
Pertumbuhan
jaringan ikat yang abnormal pada kulit dan pembuluh darah, membuat kulit dan
jaringan ikat kencang dan mengeras.
gejala
diantaranya jari tangan dan kaki yang putih, merah, atau biru sebagai respon
terhadap panas dan dingin, penebalan kulit , nyeri dan kaku pada jari, kulit
yang terlihat mengkilap, kulit yang
keras atau kencang seperti topeng, koreng pada jari kaki maupun tangan,
penebalan kulit , sesak nafas,dll.
16. Rheumatoid arthritis ( RA)
Sistem
kekebalan tubuh meneyerang lapisan sendi diseluruh tubuh,penyakit ini tidak
hanya pada orang tua saja namun dapat terjadi kepada anak-anak.
Dengan
gejala , nyeri , kaku , bengkak dan perubahan bentuk sendi, gerakan terbatas
dan fungsinya kurang, disertai demam dan kelelahan.
17. Psoriasis
Penyakit
autoimun yang menyebabkan sel-sel kulit baru tumbuh jauh didalam kulit, dan
naik dengan cepat, sehingga menumpuk di permukaan kulit.
Dengan
gejala , bercak merah tebal , tertutup sisik, biasanya muncul di kepala,siku
dan lutut, gatal dan nyeri yang membuat sulit tidur , dll.
F.
Mendiagnosa penyakit autoimunitas
Tidak
ada tes tunggal yang bisa mendiagnosa penyakit autoimun. Biasanya, dokter akan
menggunakan kombinasi tes dan penilaian gejala untuk mendiagnosa penyakit
autoimun. Uji antibodi antinuklear (ANA) sering merupakan tes pertama yang
digunakan dokter saat gejala menunjukkan penyakit autoimun.
Jika
hasil tes positif, berarti Anda mungkin memiliki salah satu dari penyakit
autoimun, namun hal ini tidak dapat mengonfirmasi dengan pasti penyakit
autoimun yang Anda miliki. Tes darah ANA positif dapat menunjukkan bahwa Anda memiliki
penyakit autoimun. Tes lain adalah mencari autoantibodi spesifik yang
diproduksi pada penyakit autoimun tertentu. Dokter mungkin juga akan melakukan
tes untuk memeriksa peradangan yang dihasilkan oleh penyakit ini.
Pemeriksaan
darah yang menunjukkan adanya radang dapat diduga sebagai gangguan autoimun.
Misalnya, pengendapan laju eritrosit (ESR) seringkali meningkat, karena protein
yang dihasilkan dalam merespon radang mengganggu kemampuan sel darah merah
(erythrocytes) untuk tetap ada di darah. Sering, jumlah sel darah merah
berkurang (anemia) karena radang mengurangi produksi mereka. Tetapi, radang
mempunyai banyak sebab, banyak diantaranya yang bukan autoimun. Dengan begitu,
dokter sering mendapatkan pemeriksaan darah untuk mengetahui antibodi yang
berbeda yang bisa terjadi pada orang yang mempunyai gangguan autoimun khusus.
Contoh antibodi ini ialah antibodi antinuclear, yang biasanya ada di lupus
erythematosus sistemik, dan faktor rheumatoid atau anti-cyclic citrullinated
peptide (anti-CCP) antibodi, yang biasanya ada di radang sendi rheumatoid.
Tetapi antibodi ini pun kadang-kadang mungkin terjadi pada orang yang tidak
mempunyai gangguan autoimun, oleh sebab itu dokter biasanya menggunakan
kombinasi hasil tes dan tanda dan gejala orang untuk mengambil keputusan apakah
ada gangguan autoimun.
G.
pengobatan penyakit
autoimunitas
Pengobatan
tidak dapat menyembuhkan penyakit autoimun, namun bisa mengendalikan respon
imun yang terlalu aktif dan menurunkan peradangan. Obat yang digunakan untuk
mengobati kondisi ini meliputi:
·
Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti
ibuprofen (Motrin, Advil) dan naproxen (Naprosyn).
·
Obat penekan kekebalan tubuh, di mana obat
ini memiliki berbagai macam jenis:
1.
Kortikosteroid: Prednison, budesonid,
prednisolon.
2.
Inhibitor kalsineurin: Siklosporin,
tacroimus.
3.
mTOR inhibitor: Sirolimus, everolimus.
4.
IMDH inhibitor: Azathioprine, leflunomide,
mikofenolat.
5.
Antibodi monoklonal: Basilliximab,
daclizumab, muromonab.
6.
Obat biologis: Abatacept (Orencia),
adalimumab (Humira), anakinra (Kineret), certolizumab (Cimzia), etanercept
(Enbrel), golimumab (Simponi), infliximab (Remicade), ixekizumab (Taltz),
natalizumab (Tysabri), rituximab (Rituxan), secukinumab (Cosentyx), tocilizumab
(Actemra), ustekinumab (Stelara), vedolizumab (Entyvio).
Pengobatan memerlukan kontrol reaksi autoimmune
dengan menekan sistem kekebalan tubuh. Tetapi, beberapa obat digunakan reaksi
autoimmune juga mengganggu kemampuan badan untuk berjuang melawan penyakit,
terutama infeksi.
Obat yang menekan sistem kekebalan tubuh (imunosupresan), seperti azathioprine, chlorambucil, cyclophosphamide, cyclosporine, mycophenolate, dan methotrexate, sering digunakan, biasanya secara oral dan seringkal denganjangka panjang. Tetapi, obat ini menekan bukan hanya reaksi autoimun tetapi juga kemampuan badan untuk membela diri terhadap senyawa asing, termasuk mikro-jasad penyebab infeksi dan sel kanker. Kosekwensinya, risiko infeksi tertentu dan kanker meningkat.
Sering kortikosteroid, seperti prednison, diberikan, biasanya secara oral. Obat ini mengurangi radang sebaik menekan sistem kekebalan tubuh. KortiKosteroid yang digunakan dalam jangka panjang memiliki banyak efek samping. Kalau mungkin, kortikosteroid dipakai untuk waktu yang pendek sewaktu gangguan mulai atau sewaktu gejala memburuk. Tetapi, kortikosteroid kadang-kadang harus dipakai untuk jangka waktu tidak terbatas.
Ganggua autoimun tertentu (misalnya, multipel sklerosis dan gangguan tiroid) juga diobati dengan obat lain daripada imunosupresan dan kortikosteroid. Pengobatan untuk mengurangi gejala juga mungkin diperlukan.
Etanercept, infliximab, dan adalimumab menghalangi aksi faktor tumor necrosis (TNF), bahan yang bisa menyebabkan radang di badan. Obat ini sangat efektif dalam mengobati radang sendi rheumatoid, tetapi mereka mungkin berbahaya jika digunakan untuk mengobati gangguan autoimun tertentu lainnya, seperti multipel sklerosis. Obat ini juga bisa menambah risiko infeksi dan kanker tertentu.
Obat baru tertentu secara khusua membidik sel darah putih. Sel darah putih menolong pertahanan tubuh melawan infeksi tetapi juga berpartisipasi pada reaksi autoimun. Abatacept menghalangi pengaktifan salah satu sel darah putih (sel T) dan dipakai pada radang sendi rheumatoid. Rituximab, terlebih dulu dipakai melawan kanker sel darah putih tertentu, bekerja dengan menghabiskan sel darah putih tertentu (B lymphocytes) dari tubuh. Efektif pada radang sendi rheumatoid dan dalam penelitain untuk berbagai gangguan autoimun lainnya. Obat lain yang ditujukan melawan sel darah putih sedang dikembangkan.
Plasmapheresis digunakan untuk mengobati sedikit gangguan autoimun. Darah dialirkan dan disaring untuk menyingkirkan antibodi abnormal. Lalu darah yang disaring dikembalikan kepada pasien. Beberapa gangguan autoimun terjadi tak dapat dipahami sewaktu mereka mulai. Tetapi, kebanyakan gangguan autoimun kronis. Obat sering diperlukan sepanjang hidup untuk mengontrol gejala. Prognosis bervariasi bergantung pada gangguan.
Obat yang menekan sistem kekebalan tubuh (imunosupresan), seperti azathioprine, chlorambucil, cyclophosphamide, cyclosporine, mycophenolate, dan methotrexate, sering digunakan, biasanya secara oral dan seringkal denganjangka panjang. Tetapi, obat ini menekan bukan hanya reaksi autoimun tetapi juga kemampuan badan untuk membela diri terhadap senyawa asing, termasuk mikro-jasad penyebab infeksi dan sel kanker. Kosekwensinya, risiko infeksi tertentu dan kanker meningkat.
Sering kortikosteroid, seperti prednison, diberikan, biasanya secara oral. Obat ini mengurangi radang sebaik menekan sistem kekebalan tubuh. KortiKosteroid yang digunakan dalam jangka panjang memiliki banyak efek samping. Kalau mungkin, kortikosteroid dipakai untuk waktu yang pendek sewaktu gangguan mulai atau sewaktu gejala memburuk. Tetapi, kortikosteroid kadang-kadang harus dipakai untuk jangka waktu tidak terbatas.
Ganggua autoimun tertentu (misalnya, multipel sklerosis dan gangguan tiroid) juga diobati dengan obat lain daripada imunosupresan dan kortikosteroid. Pengobatan untuk mengurangi gejala juga mungkin diperlukan.
Etanercept, infliximab, dan adalimumab menghalangi aksi faktor tumor necrosis (TNF), bahan yang bisa menyebabkan radang di badan. Obat ini sangat efektif dalam mengobati radang sendi rheumatoid, tetapi mereka mungkin berbahaya jika digunakan untuk mengobati gangguan autoimun tertentu lainnya, seperti multipel sklerosis. Obat ini juga bisa menambah risiko infeksi dan kanker tertentu.
Obat baru tertentu secara khusua membidik sel darah putih. Sel darah putih menolong pertahanan tubuh melawan infeksi tetapi juga berpartisipasi pada reaksi autoimun. Abatacept menghalangi pengaktifan salah satu sel darah putih (sel T) dan dipakai pada radang sendi rheumatoid. Rituximab, terlebih dulu dipakai melawan kanker sel darah putih tertentu, bekerja dengan menghabiskan sel darah putih tertentu (B lymphocytes) dari tubuh. Efektif pada radang sendi rheumatoid dan dalam penelitain untuk berbagai gangguan autoimun lainnya. Obat lain yang ditujukan melawan sel darah putih sedang dikembangkan.
Plasmapheresis digunakan untuk mengobati sedikit gangguan autoimun. Darah dialirkan dan disaring untuk menyingkirkan antibodi abnormal. Lalu darah yang disaring dikembalikan kepada pasien. Beberapa gangguan autoimun terjadi tak dapat dipahami sewaktu mereka mulai. Tetapi, kebanyakan gangguan autoimun kronis. Obat sering diperlukan sepanjang hidup untuk mengontrol gejala. Prognosis bervariasi bergantung pada gangguan.
Untuk
diketahui, penyakit autoimun lebih sering menyerang wanita,dan sering kali
menurun dalam keluarga. Meski penyakit autoimun masih belum diketahui
penyebabnya, namun Anda bisa mewaspadai diri sendiri dengan memerhatikan faktor
risiko. Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami gejala terkait
penyakit-penyakit di atas.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Autoimunitas adalah respon imun terhadap
antigen tubuh sendiri yang disebabkan oleh menkanisme normal yang gagal
berperan untuk mempertahankan self-tolerance sel B, sel T atau keduanya. Respon
imun terlalu aktif menyebabkan disfungsi imun, menyerang bagian dari tubuh
tersebut dan merupakan kegagalan fungsi sistem kekebalan tubuh yang membuat
badan menyerang jaringannya sendiri. Sistem imunitas menjaga tubuh melawan pada
apa yang terlihatnya sebagai bahan asing atau berbahaya. Bahan seperti itu
termasuk mikro-jasad, parasit (seperti cacing), sel kanker, dan malah
pencangkokkan organ dan jaringan.
Obat yang menekan sistem kekebalan tubuh
(imunosupresan), seperti azathioprine, chlorambucil, cyclophosphamide,
cyclosporine, mycophenolate, dan methotrexate, sering digunakan, biasanya
secara oral dan seringkali dengan jangka panjang. Tetapi, obat ini menekan
bukan hanya reaksi autoimun tetapi juga kemampuan badan untuk membela diri
terhadap senyawa asing, termasuk mikro-jasad penyebab infeksi dan sel kanker.
Kosekwensinya, risiko infeksi tertentu dan kanker meningkat.
B. Saran
Dan kami berharap karya tulis ini dapat
bermanfaat pagi pembaca sebagai ilmu pengetahuan atau wawasan umum. saya menyadari bahwa dalam karya ilmiah
ini masih banyak memiliki kekurangan, karena keterbatasan pengetahuan dan
sarana yang saya
miliki. Untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sesalu saya harapkan sehingga dimasa mendatang karya ilmiah
ini dapat menjadi lebih baik.
Daftar
pustaka
Ariebowo, Fictor ferdinand P.2009.
Praktis Belajar Biologi 2 .jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
http://doktersehat.com/gejala-penegakan-diagnosis-dan-pengobatan-penyakit-autoimun/
https://mediskus.com/penyakit/penyakit-autoimun-pengertian-gejala-pengobatan
http://www.spesialis.info/?apa-penyebab-gangguan-autoimun-,393
http://www.atlm.web.id/2014/07/makalah-autoimun.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar