Sabtu, 21 September 2019

Karya ilmiah menganalisis penyakit yang berkaitan dengan autoimunitas

Daftar isi
Halaman judul......................................................................................................... i
Kata pengantar.........................................................................................................ii
Daftar isi..................................................................................................................iii
       BAB I PENDAHULUAN                                                                            
A.   latar belakang masalah..........................................................................................
B.   perumusan masalah...............................................................................................
C.   tujuan penulisan....................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A.   pengertian autoimunitas.......................................................................................
B.   penyebab penyakit autoimunitas..........................................................................
C.   mekanisme terjadinya penyakit autoimunitas......................................................
D.   faktor resiko penyakit autoimunitas.....................................................................
E.    gejala dan jenis penyakit yang terkait dengan autoimunitas................................
F.    mendiagnosa penyakit autoimunitas....................................................................
G.   pencegahan dan pengobatan penyakit autoimunitas............................................
BAB III PENUTUP
Kesimpulan ................................................................................................................
Saran...........................................................................................................................
Daftar pustaka.............................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar belakang masalah
Penyakit AutoImune adalah penyakit yang cukup berbahaya ,dimana sistem kekebalan yang terbentuk salah mengidentifikasi benda asing, dimana sel, jaringan atau organ tubuh manusia justru dianggap sebagai benda asing sehingga dirusak oleh antibodi. Jadi adanya penyakit autoimmune tidak memberikan dampak peningkatan ketahanan tubuh dalam melawan suatu penyakit, tetapi justru terjadi kerusakan tubuh akibat kekebalan yang terbentuk.
Jika tubuh dihadapkan sesuatu yang asing maka tubuh memerlukan ketahanan berupa respon immun untuk melawan substansi tersebut dalam upaya melindungi dirinya sendiri dari kondisi yang potensial menyebabkan penyakit. Untuk melakukana hal tersebut secara efektif maka diperlukan kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri sehingga dapat memberikan respon pada kondisi asing atau bukan dirinya sendiri.

B.   Perumusan masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Autoimun?
2.      Apa penyebab penyakit Autoimun?
3.      Bagimana mekanisme terjadinya penyakit autoimun?
4.      Apa saja faktor resiko yang diakibatkan oleh autoimun?
5.      Apa saja jenis-jenis penyakit autoimun beserta gejalanya?
6.      Bagaimana cara mendiagnosa penyakit autoimun?
7.      Bagaimana cara pencegahan maupun pengobatan terhadap penyakit autoimun?
C.   Tujuan penulisan
1.      Mengetahui apa yang dimaksud dengan Autoimun
2.      Mengetahui penyebab dan mekanisme terjadinya penyakit autoimun
3.      Mengetahui apa saja faktor resiko penyakit autoimun
4.      Mengetahui jenis penyakit autoimun melalui gejala-gejala yang ada serta diagnosa autoimun
5.      Mengetahui bagaimana cara mengobati penyakit autoimun
BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengertian Autoimunitas
Autoimunitas adalah kegagalan suatu organisme  untuk mengenali bagian dari dirinya sendiri sebagai bagian dari dirinya, yang membuat  melawan sel dan jaringan  miliknya sendiri. Beberapa penyakit yang dihasilkan dari kelainan respon kekebalan ini dinamakan penyakit autoimun .Kesalahan yang menyebabkan sistem kekebalan melawan suatu individu yang seharusnya dilindunginya bukanlah hal yang baru
Paul ehrlich pada awal abad ke 20 mengajukan konsep horror autotoxicus di mana jaringan suatu organisme dimakan oleh sistem kekebalannya sendiri. Semua respon autoimun dulunya dipercaya sebagai hal yang abnormal dan dikaitkan dengan suatu kelainan. Namun saat ini diketahui bahwa respon autoimun adalah bagian terpisah dari sistem kekebalan vertebrata  umumnya untuk mencegah terjadinya penyakit yang disebabkan oleh toleransi imunologikal terhadap antigen milik sendiri.
Autoimunitas adalah respon imun terhadap antigen tubuh sendiri yang disebabkan oleh menkanisme normal yang gagal berperan untuk mempertahankan self-tolerance sel B, sel T atau keduanya. Respon imun terlalu aktif menyebabkan disfungsi imun, menyerang   bagian dari tubuh tersebut dan merupakan kegagalan fungsi sistem kekebalan tubuh yang membuat badan menyerang jaringannya sendiri. Sistem imunitas menjaga tubuh melawan          pada apa yang terlihatnya sebagai bahan asing atau berbahaya. Bahan seperti itu termasuk mikro-jasad,
parasit (seperti cacing), sel kanker, dan malah pencangkokkan organ dan jaringan.

Setiap penyakit yang dihasilkan dari seperti respon imun yang menyimpang, kerusakan jaringan atau gangguan fungsi fisiologis yang ditimbulkan oleh respon autoimun disebut penyakit autoimun.

Penyakit AutoImune adalah penyakit dimana sistem kekebalan yang terbentuk salah mengidentifikasi benda asing, dimana sel, jaringan atau organ tubuh manusia justru dianggap sebagai benda asing sehingga dirusak oleh antibodi.
 Jadi adanya penyakit autoimmune tidak memberikan dampak peningkatan ketahanan tubuh dalam melawan suatu penyakit, tetapi justru terjadi kerusakan tubuh akibat kekebalan yang terbentuk.

Bahan yang bisa merangsang respon imunitas disebut antigen. Antigen adalah molekul   yang mungkin terdapat dalam sel atau di atas permukaan sel (seperti bakteri, virus, atau sel kanker). Beberapa antigen, seperti molekul serbuk sari atau makanan, ada di mereka sendiri.
Sel sekalipun pada orang yang memiliki jaringan sendiri bisa mempunyai antigen. Tetapi, biasanya,sistem imunitas bereaksi hanya terhadap antigen dari bahan asing atau       berbahaya, tidak terhadap antigen dari orang yang memiliki jaringan sendirii. Tetapi, sistem imunitas kadang-kadang rusak, menterjemahkan jaringan tubuh sendiri sebagai antibodi asing dan menghasilkan (disebut autoantibodi) atau sel imunitas menargetkan dan menyerang jaringan tubuh sendiri.

Respon ini disebut reaksi autoimun. Hal tersebut menghasilkan radang dan kerusakan jaringan. Efek seperti itu mungkin merupakan gangguan autoimun, tetapi beberapa orang    menghasilkan jumlah yang begitu kecil autoantibodi sehingga gangguan autoimun tidak terjadi.











B.     Penyebab penyakit autoimunitas

            Reaksi autoimun dapat dicetuskan oleh beberapa hal :
·          Senyawa yang ada di badan yang normalnya dibatasi di area tertentu (dan demikian disembunyikan dari sistem kekebalan tubuh) dilepaskan ke dalam aliran darah.Misalnya, pukulan ke mata bisa membuat cairan di bola mata dilepaskan ke dalam aliran darah.Cairan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mengenali mata sebagai benda asing dan menyerangnya.  
                                                                      
·         Senyawa normal di tubuh berubah, misalnya, oleh virus, obat, sinar matahari, atau radiasi. Bahan senyawa yang berubah mungkin kelihatannya asing bagi sistem kekebalan tubuh. Misalnya, virus bisa menulari dan demikian mengubah sel di badan. Sel yang ditulari oleh virus merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menyerangnya.

·         senyawa asing yang menyerupai senyawa badan alami mungkin memasuki badan. Sistem kekebalan tubuh dengan kurang hati-hati dapat menjadikan senyawa badan mirip seperti bahan asing sebagai sasaran. Misalnya, bakteri penyebab sakit kerongkongan mempunyai beberapa antigen yang mirip dengan sel jantung manusia. Jarang terjadi, sistem kekebalan tubuh dapat menyerang jantung orang sesudah sakit kerongkongan (reaksi ini bagian dari deman rumatik). 

·         Sel yang mengontrol produksi antibodi misalnya, limfosit B (salah satu sel darah putih) mungkin rusak dan menghasilkan antibodi abnormal yang menyerang beberapa sel badan.

Keturunan mungkin terlibat pada beberapa kekacauan autoimun. Kerentanan kekacauan, daripada kekacauan itu sendiri, mungkin diwarisi. Pada orang yang rentan, satu pemicu, seperti infeks virus atau kerusakan jaringan, dapat membuat kekacauan berkembang. Faktor Hormonal juga mungkin dilibatkan, karena banyak kekacauan autoimun lebih sering terjadi pada wanita.

C.   Mekanisme terjadinya penyakit autoimunitas
sistem kekebalan tubuh bekerja dalam dua langkah, yaitu:
  • Membedakan sel-sel asing dengan sel-sel tubuh sendiri, kemudian mengambil tindakan terhadap sel-sel asing.
  • Jika langkah pertama tak sukses, diambil langkah kedua, terdiri dari 2 kemungkinan: Pertama, sistem kekebalan tubuh diredam dan tubuh tak lagi mengenali sel-sel asing, seperti pada kasus HIV-AIDS, di mana sistem kekebalan tubuh melemah. Kedua, sistem kekebalan tidak diredam sehingga menyerang sel-sel tubuh sendiri maupun sel-sel asing tanpa kecuali. Ini terjadi pada kasus penyakit autoimun. Saat itu, sistem kekebalan tubuh Anda menjadi benar-benar berada di luar kendali.

D.   faktor resiko penyakit autoimunitas
            Yang menjadi faktor risiko penyakit autoimun meliputi:
  • Faktor genetik, dalam faktor ini penyakit autoimun dapat terjadi pada seseorang karena keturunan. Namun, faktor keturunan ini dapat terjadi apabila faktor lingkungan juga mendukung atau mempengaruhi.
  • Faktor lingkungan, seperti gaya hidup yang tidak sehat juga termasuk didalamnya.
  • Jenis kelamin, penyakit autoimun lebih banyak menyerang jenis kelamin perempuan dibandingkan laki-laki.
  • Hormon seks, Gangguan autoimun sering menyerang saat usia produktif karena adanya hormon seks seperti estrogen dan progesteron.
  • Infeksi, Adanya infeksi tertentu dapat memperburuk beberapa penyakit autoimun.
  • Sifat autoantigen, yaitu enzim dan protein sering sebagai antigen sasaran dan mungkin bereaksi silang dengan antigen mikroba.
  • Obat-obatan, beberapa obat tertentu dapat menginduksi penyakit autoimun.



E.   Gejala dan jenis penyakit yang terkait dengan autoimunitas
Penyakit autoimun bisa berdampak pada banyak bagian tubuh. Ada lebih dari 100 jenis penyakit autoimun, mulai dari yang ringan sampai berat. Karena sangat beragam, maka gejalanya pun bervariasi. Namun, beberapa penyakit autoimun memiliki gejala-gejala yang sama. Itu sebabnya autoimun sering disebut sebagai penyakit dengan seribu wajah
.
  • Nyeri di sekujur tubuh. Nyeri yang membuat badan seperti ditusuk-tusuk.
  • Nyeri sendi. Bagian sendi yang paling sering diserang adalah sendi lutut, sendi di pergelangan tangan, punggung tangan hingga buku-buku jari. Nyeri ini terjadi di kedua sisi kiri dan kanan. Nyeri ini juga sering diiringi pembengkakan dan/atau kekakuan, sehingga membuat Anda sangat kesakitan dan sulit bergerak.
  • Fatigue, yakni rasa lelah berlebihan dan berkepanjangan, seperti Anda habis berlari jauh, membuat energi tubuh seperti terkuras habis. Bahkan untuk mengangkat badan dari tempat tidur saja terasa berat.
  • Timbul demam ringan. Bila dipegang oleh orang lain, badan akan terasa agak hangat, namun ketika diperiksa dengan termometer, suhunya masih normal (pada batas atas), sekitar 37,4 - 37,5 derajat Celsius.
  • Rambut mengalami kerontokan parah.
  • Sering terkena sariawan.
  • Brain fog. Disebut demikian karena otak sewaktu-waktu seperti tertutup kabut, sehingga untuk sesaat Anda kehilangan memori, fokus, dan konsentrasi, entah sedang menulis maupun saat berbicara.







  Penyakit – penyakit autoimun diantaranya ialah :
1.            Diabetes Tipe 1.
Diabetes Tipe 1 dapat terjadi akibat sel-sel penghasil insulin di rusak atau diserang oleh sistem imun itu sendiri. Hal ini mengakibatkan tubuh tidak mampu untuk menghasilkan insulin dan menyebabkan tubuh kelebihan kadar gula dalam darah. Jika kadar gula berlebih maka dapat merusak organ ginjal, saraf, gusi, mata dan juga gigi. Dalam kondisi yang sudah parah diabetes tipe 1 ini dapat menyebabkan serangan jantung.
Untuk gejala diabetes tipe 1 adalah gangguan penglihatan, kulit kering dan gatal, terjadi penurunan berat badan, apabila terjadi lukan maka luka akan sulit untuk disembuhkan, sering buang air kecil, sering merasa haus, mudah merasa lapar dan tidak bertenaga, dan masalah kesemutan.
2.  Celiac disease.
Selanjutnya jenis penyakit autoimun yang perlu kita ketahui adalah  celiac disease. Celiac disease menyerang tubuh dengan ketidaksanggupan tubuh dalam mentolerir gluten, yaitu suatu zat yang ada di dalam gandum. Sehingga jika sampai zat glutein masuk dalam tubuh sistem kekebalan akan merasa asing dengan zat tersebut dan tubuh meresponnya dengan cara melakukan kerusakan lapisan usus kecil.
Adapun gejala dari celiac disease adalah masalah diare atau sembelit, berat badan mengalami kenaikan dan penurunan, perut terasa kembung dan nyeri, kelelahan, infertilitas atau keguguran dan munculnya ruam dikulit yang terasa gatal.
3.            Alopecia areata.
Penyakit autoimun alopecia areata ini bekerja menyerang bagian folikel rambut atau tempat tumbuhnya rambut. Meskipun jarang di dapati adanya gangguan kesehatan yang disebabkan oleh alopecia areata ini namun akan berpengaruh pada masalah estetika.
Gejala dari alopecia areata adalah terjadinya kerontokan di bagian kulit kepala, dan bagian lainnya yang berpotensi memiliki rambut.

4.             Autoimmune hepatitis.
Salah satu jenis penyakit autoimun adalah autoimmune  yaitu adanya sistem kekebalan tubuh yang menyerang atau menghancurkan sel-sel organ hati. Akibatnya terjadilah luka parut serta pengerasan hati yang dapat mengembangkan risiko penyakit gagal hati.

Gejalanya berbentuk rasa lelah yang sangat sering terjadi, warna kulit dan juga mata menguning, munculnya gatal-gatal pada kulit, nyeri sendi, sakit perut dan pembesaran organ hati.
5.            Graves’ disease.
Autoimun ini akan membuat masalah kelenjar tirod yang bekerja terlalu aktif dan akhirnya membuat produksi hormon tiroid yag berlebihan.
    Gejalanya berupa, emosional, kesulitan tidur atau insomnia, penurunan berat badan, tangan sering  gemetar, mata terlihat menonjol, siklus haid yang singkat, mudak berkeringat, sangat sensitif terhadap panas, otot melemah, rambut rontok atau mudah patah dan terkadang bisa saja tidak menimbulkan gejala apapun.

6.            Hashimoto’s disease.
Autoimun ini merupakan kebalikan dari graves’s disease, yang akan membuat kelenjar tiroid kurang mampu menghasilkan hormon tiroid.
Adapun gejala dari hashimoto’s disease adalah rasa lelah atau fatigue, meningkatnya berat badan, masalah nyeri sendi atau kaku, nyeri otot, wajah mengalami pembengkakan, susah buang air besar, sensitif terhadap dingin, serta kelemahan otot.
7.            Hemolytic anemia.
 Hemolytic anemia akan membuat sistem kekebalan tubuh justru menimbulkan kerusakan sel-sel darah merah, dan tubuh tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan sel-sel darah yang baru dengan waktu yang cepat. Dampaknya akan membuat pasokan oksigen terganggu sehingga tubuh tidak dapat memperoleh jumlah oksigen dan akan membuat kinerja organ hati lebih keras lagi untuk dapat memindahkan darah yang dipenuhi oksigen ke seluruh tubuh.
Gejalanya adalah sakit kepala atau pusing, sesak napas, cepat lelah, tangan dan kaki sering kedinginan, wajah pucat, kulit dan mata menguning dan bisa mengakibatkan 

8.            Inflammatory Bowel Disease (IBD).
Dalam Inflammatory bowel disease (IBD), sistem kekebalan tubuh akan mengakibatkan masalah inflamasi kronis di dalam saluran pencernaan.
Untuk gejala yang dapat ditimbulkan antara lain, terjadinya demam, berat badan menurun, kelelahan, ulkus mulut, merasa sakit ketika buang air besar, diare yang terkadang disertai darah, pendarahan rektum, dan perut terasa nyeri.
9.            Multiple sclerosis (MS).
Jenis penyakit autoimun yang membuat sistem kekebalan tubuh akhirnya menyerang lapisan yang melindungi daerah sekitar saraf. Akibatnya akan mempengaruhi organ otak dan juga saraf tulang belakang.
Gejalanya antara lain merasa kesemutan atau mati rasa pada tangan dan juga kaki, otot mengalami kelemahan sehingga merasa kesulitan untuk menjaga keseimbangan tubuh, kelumpuhan, tremor, sulit berbicara dan berjalan.
10.          Inflammatory Myopathies.
Inflammatory myopathies merupakan penyebab masalah inflamasi pada otot atau kelemahan otot.
Gejalanya adalah melemahnya otot progresif yang terjadi pada bagian otot terdekat dengan batang tubuh. Penderita juga bisa mengalami kesusahan untuk bernapas atau menelan, mudah jatuh, dan sering merasa kelelahan setelah berjalan atau berdiri.
11.         Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP).
Jenis autoimun yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh justru menghancurkan yang seharusnya dibutuhkan oleh tubuh untuk membekukan darah. Gejalanya seperti terjadinya mimisan atau pendarahan di mulut, mudah memar, periode haid yang lama, dan munculnya bintik kecil berwarna ungu atu merah pada kulit yang terlihat seperti ruam.
12.         Guillain-Barre syndrome.
Autoimun ini akan membuat sistem kekebalan tubuh menyerang sistem saraf yang menghubungkan organ otak serta saraf tulang belakang dengan seluruh organ tubuh. Akibat adanya kerusakan saraf ini akan mengakibatkan terganggunya pengiriman sinyal dalam tubuh yang akhirnya membuat otot-otot mengalami hambatan dalam melakukan respon ke otak.
Gejalanya antara lain, untuk gejala yang parah akan mengakibatkan masalah kelumpuhan, kesemutan yang menyerang kaki dan bisa meluas ke tubuh bagian atas.
13.          Lupus
Penyakit lupus juga dikenal juga dengan istilah systemic lupus erythematosus dan penyakit autoimun satu ini bisa membuat antibodi berkembang dengan pesat yang malah dapat merugikan tubuh manusia. Menyerang beberapa bagian tubuh, penyakit ini cukup berbahaya dan serius karena untuk mengobatinya pun diketahui fungsi imun harus diturunkan.

Dengan gejala demam, berat badan turun, sariawan, sensitif terhadap matahari, ruam berbentuk kupu-kupu diarea hidung dan pipi, nyeri sendi dan otot, nyeri pada dada,dll.

14.          Sjogren syndrom
Dimana sistem imun menyerang kelenjar yang menghasilkan kelembaban alami pada tubuh seperti air mata dan air liur.

Dengan gejala mata gatal dan kering, mulut kering yang dapat menimbulkan luka, susah menelah, tidak mampu merasakan makanan,dll.

15.      Scleroderma
Pertumbuhan jaringan ikat yang abnormal pada kulit dan pembuluh darah, membuat kulit dan jaringan ikat kencang dan mengeras.

gejala diantaranya jari tangan dan kaki yang putih, merah, atau biru sebagai respon terhadap panas dan dingin, penebalan kulit , nyeri dan kaku pada jari, kulit yang terlihat mengkilap,  kulit yang keras atau kencang seperti topeng, koreng pada jari kaki maupun tangan, penebalan kulit , sesak nafas,dll.

16.   Rheumatoid arthritis ( RA)
Sistem kekebalan tubuh meneyerang lapisan sendi diseluruh tubuh,penyakit ini tidak hanya pada orang tua saja namun dapat terjadi kepada anak-anak.

Dengan gejala , nyeri , kaku , bengkak dan perubahan bentuk sendi, gerakan terbatas dan fungsinya kurang, disertai demam dan kelelahan.

17.    Psoriasis
Penyakit autoimun yang menyebabkan sel-sel kulit baru tumbuh jauh didalam kulit, dan naik dengan cepat, sehingga menumpuk di permukaan kulit.

Dengan gejala , bercak merah tebal , tertutup sisik, biasanya muncul di kepala,siku dan lutut, gatal dan nyeri yang membuat sulit tidur , dll.











F.    Mendiagnosa penyakit autoimunitas
Tidak ada tes tunggal yang bisa mendiagnosa penyakit autoimun. Biasanya, dokter akan menggunakan kombinasi tes dan penilaian gejala untuk mendiagnosa penyakit autoimun. Uji antibodi antinuklear (ANA) sering merupakan tes pertama yang digunakan dokter saat gejala menunjukkan penyakit autoimun.

Jika hasil tes positif, berarti Anda mungkin memiliki salah satu dari penyakit autoimun, namun hal ini tidak dapat mengonfirmasi dengan pasti penyakit autoimun yang Anda miliki. Tes darah ANA positif dapat menunjukkan bahwa Anda memiliki penyakit autoimun. Tes lain adalah mencari autoantibodi spesifik yang diproduksi pada penyakit autoimun tertentu. Dokter mungkin juga akan melakukan tes untuk memeriksa peradangan yang dihasilkan oleh penyakit ini.
Pemeriksaan darah yang menunjukkan adanya radang dapat diduga sebagai gangguan autoimun. Misalnya, pengendapan laju eritrosit (ESR) seringkali meningkat, karena protein yang dihasilkan dalam merespon radang mengganggu kemampuan sel darah merah (erythrocytes) untuk tetap ada di darah. Sering, jumlah sel darah merah berkurang (anemia) karena radang mengurangi produksi mereka. Tetapi, radang mempunyai banyak sebab, banyak diantaranya yang bukan autoimun. Dengan begitu, dokter sering mendapatkan pemeriksaan darah untuk mengetahui antibodi yang berbeda yang bisa terjadi pada orang yang mempunyai gangguan autoimun khusus. Contoh antibodi ini ialah antibodi antinuclear, yang biasanya ada di lupus erythematosus sistemik, dan faktor rheumatoid atau anti-cyclic citrullinated peptide (anti-CCP) antibodi, yang biasanya ada di radang sendi rheumatoid. Tetapi antibodi ini pun kadang-kadang mungkin terjadi pada orang yang tidak mempunyai gangguan autoimun, oleh sebab itu dokter biasanya menggunakan kombinasi hasil tes dan tanda dan gejala orang untuk mengambil keputusan apakah ada gangguan autoimun.



G.    pengobatan penyakit autoimunitas

Pengobatan tidak dapat menyembuhkan penyakit autoimun, namun bisa mengendalikan respon imun yang terlalu aktif dan menurunkan peradangan. Obat yang digunakan untuk mengobati kondisi ini meliputi:
·               Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen (Motrin, Advil)                                       dan naproxen (Naprosyn).
·               Obat penekan kekebalan tubuh, di mana obat ini memiliki berbagai macam jenis:
1.               Kortikosteroid: Prednison, budesonid, prednisolon.
2.               Inhibitor kalsineurin: Siklosporin, tacroimus.
3.               mTOR inhibitor: Sirolimus, everolimus.
4.               IMDH inhibitor: Azathioprine, leflunomide, mikofenolat.
5.               Antibodi monoklonal: Basilliximab, daclizumab, muromonab.
6.               Obat biologis: Abatacept (Orencia), adalimumab (Humira), anakinra (Kineret), certolizumab (Cimzia), etanercept (Enbrel), golimumab (Simponi), infliximab (Remicade), ixekizumab (Taltz), natalizumab (Tysabri), rituximab (Rituxan), secukinumab (Cosentyx), tocilizumab (Actemra), ustekinumab (Stelara), vedolizumab (Entyvio).
Pengobatan memerlukan kontrol reaksi autoimmune dengan menekan sistem kekebalan tubuh. Tetapi, beberapa obat digunakan reaksi autoimmune juga mengganggu kemampuan badan untuk berjuang melawan penyakit, terutama infeksi.

Obat yang menekan sistem kekebalan tubuh (imunosupresan), seperti azathioprine, chlorambucil, cyclophosphamide, cyclosporine, mycophenolate, dan methotrexate, sering digunakan, biasanya secara oral dan seringkal denganjangka panjang. Tetapi, obat ini menekan bukan hanya reaksi autoimun tetapi juga kemampuan badan untuk membela diri terhadap senyawa asing, termasuk mikro-jasad penyebab infeksi dan sel kanker. Kosekwensinya, risiko infeksi tertentu dan kanker meningkat.

Sering
kortikosteroid, seperti prednison, diberikan, biasanya secara oral. Obat ini mengurangi radang sebaik menekan sistem kekebalan tubuh. KortiKosteroid yang digunakan dalam jangka panjang memiliki banyak efek samping. Kalau mungkin, kortikosteroid dipakai untuk waktu yang pendek sewaktu gangguan mulai atau sewaktu gejala memburuk. Tetapi, kortikosteroid kadang-kadang harus dipakai untuk jangka waktu tidak terbatas.

Ganggua autoimun tertentu (misalnya, multipel sklerosis dan gangguan tiroid) juga diobati dengan obat lain daripada imunosupresan dan kortikosteroid. Pengobatan untuk mengurangi gejala juga mungkin diperlukan.

Etanercept, infliximab, dan adalimumab menghalangi aksi faktor tumor necrosis (TNF), bahan yang bisa menyebabkan radang di badan. Obat ini sangat efektif dalam mengobati radang sendi rheumatoid, tetapi mereka mungkin berbahaya jika digunakan untuk mengobati gangguan autoimun tertentu lainnya, seperti multipel sklerosis. Obat ini juga bisa menambah risiko infeksi dan kanker tertentu.

Obat baru tertentu secara khusua membidik sel darah putih. Sel darah putih menolong pertahanan tubuh melawan infeksi tetapi juga berpartisipasi pada reaksi autoimun. Abatacept menghalangi pengaktifan salah satu sel darah putih (sel T) dan dipakai pada radang sendi rheumatoid. Rituximab, terlebih dulu dipakai melawan kanker sel darah putih tertentu, bekerja dengan menghabiskan sel darah putih tertentu (B lymphocytes) dari tubuh. Efektif pada radang sendi rheumatoid dan dalam penelitain untuk berbagai gangguan autoimun lainnya. Obat lain yang ditujukan melawan sel darah putih sedang dikembangkan.

Plasmapheresis digunakan untuk mengobati sedikit gangguan autoimun. Darah dialirkan dan disaring untuk menyingkirkan antibodi abnormal. Lalu darah yang disaring dikembalikan kepada pasien. Beberapa gangguan autoimun terjadi tak dapat dipahami sewaktu mereka mulai. Tetapi, kebanyakan gangguan autoimun kronis. Obat sering diperlukan sepanjang hidup untuk mengontrol gejala. Prognosis bervariasi bergantung pada gangguan.
Untuk diketahui, penyakit autoimun lebih sering menyerang wanita,dan sering kali menurun dalam keluarga. Meski penyakit autoimun masih belum diketahui penyebabnya, namun Anda bisa mewaspadai diri sendiri dengan memerhatikan faktor risiko. Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami gejala terkait penyakit-penyakit di atas.
BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Autoimunitas adalah respon imun terhadap antigen tubuh sendiri yang disebabkan oleh menkanisme normal yang gagal berperan untuk mempertahankan self-tolerance sel B, sel T atau keduanya. Respon imun terlalu aktif menyebabkan disfungsi imun, menyerang bagian dari tubuh tersebut dan merupakan kegagalan fungsi sistem kekebalan tubuh yang membuat badan menyerang jaringannya sendiri. Sistem imunitas menjaga tubuh melawan pada apa yang terlihatnya sebagai bahan asing atau berbahaya. Bahan seperti itu termasuk mikro-jasad, parasit (seperti cacing), sel kanker, dan malah pencangkokkan organ dan jaringan.

Obat yang menekan sistem kekebalan tubuh (imunosupresan), seperti azathioprine, chlorambucil, cyclophosphamide, cyclosporine, mycophenolate, dan methotrexate, sering digunakan, biasanya secara oral dan seringkali dengan jangka panjang. Tetapi, obat ini menekan bukan hanya reaksi autoimun tetapi juga kemampuan badan untuk membela diri terhadap senyawa asing, termasuk mikro-jasad penyebab infeksi dan sel kanker. Kosekwensinya, risiko infeksi tertentu dan kanker meningkat.

B.  Saran
Dan kami berharap karya tulis ini dapat bermanfaat pagi pembaca sebagai ilmu pengetahuan atau wawasan umum. saya menyadari bahwa dalam karya ilmiah ini masih banyak memiliki kekurangan, karena keterbatasan pengetahuan dan sarana yang saya miliki. Untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sesalu saya harapkan sehingga dimasa mendatang karya ilmiah ini dapat menjadi lebih baik.




Daftar pustaka

Ariebowo, Fictor ferdinand  P.2009. Praktis Belajar Biologi 2 .jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
http://doktersehat.com/gejala-penegakan-diagnosis-dan-pengobatan-penyakit-autoimun/    
https://mediskus.com/penyakit/penyakit-autoimun-pengertian-gejala-pengobatan
http://www.spesialis.info/?apa-penyebab-gangguan-autoimun-,393
http://www.atlm.web.id/2014/07/makalah-autoimun.html                                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar